KAIN TIMUR DIMATA MASYARAKAT MAYBRAT

IMG_0473

Papua tanah yang kaya, surga kecil jatuh ke bumi, kaya alamnya dan kaya juga akan budaya dan adat isti adat suku-sukunya. Masyarakat Papua terdiri dari 319 suku yang tersebar di seluruh tanah Papua. Belanda yang kala itu masuk ke Papua melihat suku-suku yang tersebar memiliki ckhiri khas yang mirip bahkan sama dibeberapa daerah di Papua, Belanda kemudian mengelompokan adat isti adat ini kedalam 7 wilayah adat. Wilayah kepala burung Maybrat termasuk dalam wilayah adat Domberay yang terdiri dari 52 suku.

Kain Timor adalah salah satu tradisi masyarakat Maybrat yang paling menonjol di wilayah adat Domberai. Dalam kehidupan masyarakat Maybrat kain timur menjadi pusat nilai tertinggi disamping nilai filosofi hidup lainnya. Keseharian masyarakat seperti upacara adat, ritual, barter (perdagangan), pembayaran mas kawin, seni tari, semuanya menjadikan kain Timor sebagai standar ukuran tertinggi. Semua segi kehidupa sosial masyarakat Maybrat bertumpu pada kain Timor, kehidupan mereka terasa tidak lengkap jika tidak beriringan dengan kain timur. Mungkin bagi pandangan masyarakat non Maybrat Kain Timor hanyalah benda kain yang sama dengan kain-kain pada umumnya, namun bagi masyarakat Maybrat kain Timur Maybrat menjadi sentral adat tertinggi dan berhubungan langsung dengan hidup, kekayaan, prestis, kekauasaan dan kebahagian psikologis mereka.

Sejarah Kain Timor Maybrat

Kain Timor begitulah masyarakat Maybrat menyebutnya, secara historis asal usul kain Timor Maybrat memiliki beberapa fersi. Menurut Max Mayr Kambuaya salah satu tokoh masyarakat Maybrat, senior birokrasi yang lahir diera 1940-an, menuturkan bahwa kain Timor Maybrat adalah kain yang dibawa oleh para pedagang dan pelaut Portugis dari wilayah NTT. Menurut Max Mayr Kambuaya, kala itu belum ada mata uang yang digunakan sebagai alat bayar sehingga para pelaut portugis yang masuk ke wilayah Domberai mengunakan Kain Timor untuk menukarnya dengan burung kuning, rempah-rempah dan lain-lain. Kain timor hasil pertukaran dengan burung kuning dan rempah-rempah ini mulai dijadikan barang bernilai yang digunakan untuk membayar dan menukar barang, lama-kelamaan kain timour  menyebar dari Fak-fak dan Inanwatan ke wilayah Moi, Tehit, Sawiat hingga ke Maybrat. Kain Timor kemudian di Populerkan sebagai barang bernilai. Selain menyebar ke wilayah Maybrat, kain Timur juga tersebar melalui perdagangan hingga ke wilayah Doreri, terutama suku-suku Mandacan di Mnukwar.

Meski kain Timor dianggap sebagai barang hasil migrasi yang masuk melalui perdagangan ke Papua, bagi orang Maybrat masih ada fersi lain. Menurut masyarakat Maybrat kain-kain Timur bernilai tinggi seperti Wansafe atau Sarim (sebutan nama kain menurut orang maybrat) punya cerita sejarah mitos tersendiri. Menurut orang-orang Maybrat, kain-kain ini diberikan oleh alam, melalui pristiwa-peristiwa alam, kain ini diberikan oleh  mata air, pohon dan lain-lain. Cerita-cerita lisan ini berkembang menjadi mitos yang dipercaya oleh masyarakat Maybrat. Mitos-mitos ini membuat kain-kain yang diwariskan oleh marga-marga tertentu kepada anak-anaknya menjadi kepercyaan yang hidup ditengah masyarakat Maybrat. Sejarah dan mitologi kain timur Maybrat ini semakin melegitimasi dan mempopulerkan kain Timor sebagai benda adat bernilai tinggi.

Fungsi Dan Manfaat Kain

Kain Timur bagi masyarakat Maybrat memiliki nilai guna sosial, ekonomi dan politik.  Kain Timur pada masa-masa sebelumnya berfungsi sebagai alat barter dalam perdagangan  tradisonal masyarakat Maybart. Aktivitas tukar menukar hasil bumi pertanian dan lain-lain, kain timur sering dijadikan alat bayar yang bernilai dan efektif. Dengan kain timor seseorang bisa mendapatkan keladi, sayur- sayuran, ikan, minuman tradisional (Sageru), bahkan digunakan untuk membeli dan membayar tanah garapan kepada keret tertentu atau yang disebut masyarakat Maybrat Mate Tabam (bayar tanah garapan/milik).

Selain berfungsi sebagai alat bayar dalam aktivitas perdagangan, kain Timur juga digunakan sebagai alat pembayaran mas kawin, upacaya adat dan lain-lain. Keadaan masyarakat Maybrat yang kala itu gemar konflik untuk saling menaklukan, kain timur menjadi sarana efektif untuk resolusi dan merekonsiliasi koflik. Pembunuhan, permasalahan muda-mudi kain timur berfungsi efektif untuk mendamaikannya. Bagi orang Maybrat penyelesaian konflik serta mencegah tetrjadinya konflik maka kain Timur yang dianggap bernilai tinggi harus diberikan sebagai kompensasi atas hilangnya nyawa orang. Fungsi kain Timur sebagai pendamai konflik dan pembayaran mas kawin masih berlaku hingga tahun 2016 saat ini. Jika ditelisik sekian kasus pembunuhan yang terjadi dimasyarakat, hukum positif Negara tidak efektif mendamaikan kelompok yang bertikai sehingga hukum adat dengan kain Timur masih menjadi pendamai yang efektif.

 

Filosofi Kain Timor  

Walaupun hanya benda berupa kain, namun kain Timur Maybrat terkandung makna filosofis yang tinggi. Pertukaran kain adat yang dilakukan masyarakat Maybrat secara turun-temurun mengikat kekerabatan sosial yang tinggi. Dari jalur pertukaran kain yang berpindah tangan ini menciptakan solidaritas sosial yang tinggi. Hal ini nampak jelas ketika salah satu dari anggota keluarga meninggal, sakit atau mengalami masalah kerabat jalur kain Timor akan berbondong-bondong meberikan bantuan materi dan lain-lain. Kain Timur dalam proses denda adat serta pembayaran mas kamwin mengandung nilai kebersamaan. Jika kita memahaminya dalam konteks konsep sosialis dan kapitalis, maka praktek sosialis maybrat kongkritnya adalah kain timur sebagai media pemersatu.

Dari aspek sosial masyarakat Maybrat merasa terpandang di komunitasnya, bagi mereka yang menyimpan kain yang berkelas mendapat status sosial yang tinggi atau sering disebut raa bobot. Strata sosial masyarakat Maybrat juga ditentukan oleh status kain yang dimiliki. Karena sulitnya mendapatkan kain klas tertinggi, masyarakat Maybrat tidak berlaku amoral, kasar bahkan jahat sebab tindakan merugikan sesame, sebab jika melakukan pelanggaran sosial seperti membunuh, mencuri akan di kompensasikan dengan kain berkelas yang hanya dimiliki oleh orang tertentu.

Konsekwensi sosial beruapa kain yang akan dibayarkan ini berfungsi efektif mengontrol perilaku hidup masyarakat Maybrat. Kaum muda-mudi bahkan orang dewas tidak bergaul bebas bahkan berhubungan sex bebas, sebab sangsi kain timur menjadi beban berat yang akan ditanggung. Bagi mereka yang tidak memiliki kain bernilai harus meminjam untuk membayar denda adat, hal ini menciptakan lingkaran utang yang panjang. Konsekwensi meminjam kain adat untuk membayar denda adat berimplikasi kepada pemberian hak tanah atau hak ulayat mereka. Maka konsekwensi kehidupan akan menjadi lebih berat.

Nilai filosofis kain timur lain adalah strategi pertukaran kain timur dengan mengunakan kain yang dianggap bernilai rendah menukarkan dengan mengharapkan pengantian kembali dengan kain bernilai lebih tinggi merupakan cirikhas kapitalisme kain timur. Prinsip-prinsip pengetahuan strategis lokal ini sering diadopsi kedalam dunia politik bahkan ekonomi generasi  Maybrat di era moderen saat ini. Hal ini bias diliat dengan adanya slogan-slogan uang kecil beli uang besar, modal kecil untung besar merupakan wujud nyata prinsip-prinsip pertukaran kain timur yang diadopsi dalam dunia bisnis.

Dibidang politik strategis khas lokal Maybrat juga sering dijadikan filosofi, prinsip dan strategi dalam membangun jaringan, basis politik. Membangun relasi dengan utang, menolong dengan kain timur dengan tujuan menjaga relasi dan aliansi ini juga diadopsi kedalam politik praktis moderen saat ini. Pada prinsipnya kain timur hanyalah benda tetapi bisa menhidupkan semua aspek dalam kehidupan orang Maybrat.

Kain Timor Maybrat Di Era Moderen

Diera moderen saat ini kain Timor dalam pandangan orang Maybrat masih menjadi aspek penting dan menduduki posisi tertinggi. Warisan budaya tutur tentang manfaat, makna kain timur terus ditransfer kepada generasi muda. Kita bisa menjumpai aktivitas menjual kain oleh generasi muda saat ini, kain dijual dalam bentuk rupiah bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta. Aktivitas pembayaran mas kawin bahkan denda adat konflik, urusan muda-mudi masih mengunakan kain timur sebagai sangsi dan kompensasi yang relefan.

Bahkan kain yang diwariskan kepada generasi muda dengan semua nilai filosofi yang diceritakan membuat anak-anak muda Maybrat saat ini menjadikanya sebagai suatu kembagaan sosial,  sebagai alat ukur nilai diri, suatu bentuk pemisah strata sosial. Dengan kain Timor anak-anak muda Maybrat mendefenisikan diri mereka sebagai pemimpin berbeda dikomunitas mereka, karena memiliki ilmu pengetahuan tetapi juga memiliki kain Timor, kedua legitimasi ini menjadi modal mencitrakan diri.

Meski diwariskan secara baik, namun ada bagian yang hilang yaitu fungsi relasi kain timur yang dulunya menyatukan orang Maybrat yang tinggal jauh maupun dekat, membentuk solidaritas sosial tinggi, menjaga harmoni sosial agar orang tidak bertindak semena-mena menjadi hilang. Prinsip-prisp kebersamaan, tolong menolong serta menghargai menjadi pudar. Kain timurpun diukur nilainya dengan uang rupiah, makna filosofis dan moral menjadi sirna dan suram. Peran pemerintah dan tetua adat diperlukan untuk meluruskan fungsi dan filosofi pokok kain timur dibutuhkan untuk memperkuat khasanah budaya dan adat isti adat Maybrat.

Anu raa yum, anu bsee, anu btak. Awia u anu oh fo, tija u ifo yoh fo.

Oleh: Agustinus.R.Kambuaya