IRONI TRANSMIGRASI DAN SAWIT DI KABUPATEN MAYBRAT

maybrat

Kebijakan mendatangkan transmigrasi yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Maybrat melalui Dinas Ketenagakerjaan Dan Transmigrasi, yang sempat mengalami pro kontra akhirnya direalisasikan. Berdasarkan data yang dihimpun Koalisi Pemuda, Mahasiswa dan Masyarakat Maybrat, sebanyak 150 Kepala Keluarga (KK) telah tiba dan berada di Aifat Timur Raya.

Sejauh ini rencana kebijakan ini tidak transfaran, Anggota DPRD Kabupaten Maybrat tampaknya tidak memberikan pertimbangan ilmiah dan obyektif terkait recana aksi kebijakan ini. Mestinya sebelum rencana ini diwujudkan, Dinas terkait dan DPRD Kabupaten Maybrat harus menimbang dari berbagai aspek apa manfaat dari kebijakan ini..? Manfaat sosial seperti pengurangan lahan, dominasi lapangan pekerjaan oleh para pendatang serta pertimbangan lain harus dilakukan. Diskusi public dan lain sebagainya tidak pernah dilakukan untuk mendapat imput terkait kebijakan mendatangkan transmigrasi serta perkebunan sawit ini.

Kebijakan ini benar-benar paradoks, mengapa..? Sebab luas wilayah Kab.Maybrat tidak sama dengan wilayah Kabupaten Lain di Papua yang sanggat luas. Pemataan wilayah pembangunan yang baku dan untuk jangka panjang harus dilakukan. Secara kasat mata kita belum melihat adanya proyeksi arah pembangunan yang jelas.

Pemetaan mana wilayah pemerintahan, mana wilayah basis pertanian yang menjadi lumbung pangan, mana wilayah yang di proyeksi menjadi pusat pendidikan, mana wilayah industry,mana wilayah industri/ agribisnis untuk perkebunan sawit dll. Ini ironi, tempat kita hanya sedikt jika sawit dan transmigrasi masuk bagaimana nasib saudara/i dan anak-anak kita nantinya..??

Mestinya perjalanan dinas kita bukan untuk berjalan-jalan, bersenang-senang, kita harus belajar banyak di kota-kota urban, pengemis dan pengamen di jakarta dan jawa pada umumnya adalah mata rantai kemiskinan panjang yang disebabkan oleh kesalahan generasi sebelumya. Generasi tua menjual tanah lalu tidak menginvestasikan uang hasil tanah untuk pendidikan anak mereka, maka merea menjadi kaum miskin perkotaan saat ini.

Jika mengunakan analisis SWOT kekuatan Kabupaten Maybrat lebih dominan ketimbang kelemahan. Kekuatanya adalah semua kampung mayoritas orang-orang terdidik yang menyandang gelar S1. Kelemahan kita adalah luas wilayah sempit, tidak subur dan tanah dimiliki oleh klen, keret dan marga secara bersama-sama.

Untuk mengatasi luas wilayah yang tidak menjanjikan untuk pertanian, perkebunan skala besar serta untuk industry, Metodenya kita menyiapkan SDM untuk didistrubusi ke wilayah seluruh Papua bahkan menyediakan tenaga professional untuk Multi National Corporations (MNC) Yang ada seperti BP, SKK Migas, Pertamina, PT.Freeport, Petrocina dll.

Sejauh ini, formula ini sudah berjalan secara alami, hasilnya generasi tua Maybrat yang sukses diseluruh Papua membawa dan mengiring uang mereka ke Maybrat. Ini membuat perputaran uangyang cukup tinggi di Maybrat. Fligth money atau uang terbang keluar Papua tidak terjadi dikalangan orang Maybrat, uang justru diterbangkan ke Maybrat untuk pembangunan rumah, usaha, gereja, Ini menarik Ini mesti kita perthanakan, kita merebut peluang tenaga kerja profesional itulah yang mesti kita lakukan.

Pemerintah Kabupaten adalah pemerintah yang beruntung, mengapa.? Orang Maybrat punya etos kerja yang tinggi, tidak mengharpkan belas kasihan pemerintah. Rumah dibangun sendiri, usaha (bisnis & dagang) diupayakan sendiri, anak-anak mereka disekolahkan sendiri tanpa bantuan pemerintah secara penuh. Ini modal kita, pemerintah mestinya mengambil peran sebagai fasilitator terhadap apa yang sudah menjadi budaya masyarakat Maybrat. Budaya sekolah, budaya bersaing dll. Menyediakanbeasiswa, mendirikan sekolah dan Universitas kejuruan adalah langkah kongkrit tetapi strategis untuk mencapai tujuan termaksud diatas. Terkait sawit  dan transmigrasi pemerintah Kabupaten Maybrat masih mempunyai banyak waktu untuk melaukan langkah strategis dan taktis.

 Rekomendasi

  1. Segera evaluasi secara terbuka antara komponen masyrakata, DPRD Gereja dan membatalkan Program Transmigrasi dan Sawit yang saat ini sedang berjalan
  2. Pemerintah Kabupaten Maybrat bertangung jawab memulangkan 150 KK yang sudah didatangkan diafat timur tersebut
  3. Pernyataan bersama rakyat Gereja, Pemerintah, DPRD, Pemuda, Tokoh Adat untuk tidak melakukan kebijakan yang sama disuatu waktu. Menetapkan perda tidak adanya program transmigrasi di Kab. Terimakasih

 

Oleh: Agustinus.R.Kambuaya

Directur Papua Institute

(Center For Public Policy and developmental Study)