KEKERASAN MILITER TERHADAP MAHASISWA PAPUA DI YOGYAKARTA

13728897_1018928288197920_3710334012176047814_n

Tak Ada Lagi Lagu Yang Indah Di Malioboro.

Jogja Tak Lagi Berhati Nyaman. Ketika itu saya bersama saudara/i Papua turun jalan ikut menyuarakan aspirasi rakyat Jogja. Jogja Refrendum. Kala itu semangat referendum bukan gagasan murni yang digalangkan, tetapi Jogja referendum digagas karena sakit hati warga Jogja terhadap pernyataaan SBY bahwa Indonesia ini negara demokrasi, tidak ada monarki absolut seperti Jogjakarta.

Pernyataan ini sontak membuat hati warga Jogja tersayat-sayat, mirisnya hati rakyat Jogjakarta ini membuat warga Jogja marah dan ingin memisahkan diri. Tak heran, ingatan sejarah masa lalu seperti Jogja adalah negara sendiri dengan nama ” Nagari Hadinigrat Ngayokyakarto” sebuah negara merdeka yang meminta bergabung dengan NKRI, dengan syarat statusnya dijadikan daerah istimewa.

Sebagai beban moril anak-anak rantau yang menghargai keberadaan keraton Mataram dan pakualam, kami dari Papua dan Papua Barat serta semua Indonesia timur raya ikut memberi dukungan moril bersama rakyat Jogja melakukan aksi Prtotes di halaman kantor gubernur (Kepatihan)Yogyakarta. Ini wujud penghormatan kami terhadap budaya, eksistensi dan demokrasi masyrakat Jogja.

Hasilnya Presiden Susilo Bambang Yudoyonopun melakukan permintaan maaf secara resmi. Bagi kami NKRI adalah konsensus dari masyrakat lokal untuk membentuk sebuah negara. Selain merepresentasikan unsur kebudayaan yang diintegrasikan kedalam NKRI, sejarah penderitaan dan ketidak adilan yang sama juga kami masyrakat Papua alami. Ini dasar filosfis yang mendorong kami mendukung masyrakat Jogja. Pernyataan SBY bagi kami benar-benar menginjak-injak harga diri Sri Sultan Hamengku Buono ke X dan Sri Pakualam.

Jogja Tak Lagi Berhati Nyaman.

Bagi kami, warga Jogja dengan slogan Jogja Berhati nyaman adalah slogan simbol kemanusian warga Jogja. Seluruh tanah Jawa orang Jogja adalah jawa sesunguhnya karena memegang teguh pada filosfi hidup kejawen dan filsafat sosial jawa seutuhnya.

Aapa yang terjadi pada Saudara/i kami di Jogjakarta membuat kami miris dan kecewa terhadap pemerintah Kota dan Provinsi Jogjakarta. Sebab anak-anak Papua bisa mendukung aspirasi mereka, tetapi sebaliknya mereka tidak mendukung dan menjamin kebebasan berdemokrasi bagi mahasiswa Papua disana.

Aspirasi mahasiswa Papua jelas mendukung ULMWP, Suatu gerakan politik rakyat Papua yang ingin memisahkan diri dari NKRI. Jelas ini tindakan mengancam keutuhan NKRI, tetapi sisi demokrasi kebebasan berpendapat dimuka umum yang tertuang dalam piagam PBB Tentang Hak ekosob (Freedom For Speak), dippahami dan diimplementasikan baik oleh semua pihak.

Tindakan ratusan anggota kepolisian yang menghadang Asrama Mahasiswa Papua di Jl. Kusuma Negara ini benar-benar menunjukan sikap kekerasan negara terhadap aspirasi rakyat Papua. Kondisi ini semakin ironis dengan upaya membatasi bantuan dari palang merah kepada mahasiswa Papua yang terisolasi di dalam Asrama. Mahasiswa menderita kelaparan, trauma, kesakitan secarafisik akibat pukulan dan lain sebagainya.

Sejarah panjang penindasan NKRI Selama tiga setegah abad mestinya menyadarkan kita tentang apa arti kata kemanusian dan demokrasi yang sesunguhnya. Yang terjadi justru sebaliknya, setelah megusir penjajah kolonial Belanda, kita justru mempraktekan apa yang mereka lakukan. Membungkam ruang demokrasi, ototriter dan lain sebagainya. Pendekatan militer yang dominan telah membuat citra Indonesia dipandang buruk dalam pergaulan Internasional, mestinya ini menjadi pelajaran

Pendekatan militer yang dominan terhadap isu Papua ini jelas bertentangan dengan spirit demokrasi yang didengungkan negara. Negara mengklaim sebagai negara demokrasi, penghormatan dan pemajuan hak asasi manusia sudah berjalan baik, kenyataa justru sebaliknya.

Tindakan-tindakan aparat menganiaya mahasiswa tentu menghasilkan dua kenyataan yang berbeda. Disatu sisi menciptakan ketakutan bagi masyrakat Papua. Sebaliknya, represivitas negara yang berlebihan ini akan menjadi martir dan bom yang terus membangkitkan semangat perlawanan masyrakat Papua. Tindakan-tindakan ini akan menjadi minyak pembakar mesin perjuangan Papua merdeka.

Agustinus.R.K.