Arogansi POLRI Di Deyai Paua

Konflik dan kekerasan TNI & POLRI Kepada Masyarakat di Wilayah Adat Lapago Seolah tak pernah henti. Ingatan kita masyarakat Papua masih segar untuk mengingat kasus penembakan 4 siswa di Paniai pada 8 desember 2014 silam. Kasus ini mendapat sorotan berbagai pihak, baik gereja, NGO bahkan dunia internasional memberikan perhatian serius atas kasus ini. Tidak lama setelah kasus ini, pada tahun 2017 Televisi Swasta Naisional Metro TV menayangkan sisi lain keterlibatan TNI dalam bisnis Pertambangan di Nabire dengan Judul Berita “Emas Di Kuras Rakyat di Tindak” Satu tayangan yang menayangkan sisi lain militer yang ikut berniaga di Tanah Papua.

Berita tersebut merupakan sebagian kecil dari keterlibatan TNI & POLRI Dalam dunia usaha atau bisnis. Fakta tersebut merupakan gambaran bahwa masyarakat Papua mengenal kehadiran aparat keamanan (TNI & POLRI) bukan saja dalam bentuk kekerasan berupa konflik, penyiksaan, penganiayan dan lain sebagainya, lebih daripada itu kita mengenalnya sebagai bentuk kolaborasi, persekongkolan insturmen keamanan negara dan pemodal dalam mengeruk sumberdaya alam Papua (kekerasan TNI & POLRI) dalam dunia bisnis. Lupakan ulasan itu, kita kembali fokus kepada kasus Penembakan warga sipil di Deyai 1 Agustuns 2017.

Kekerasan TNI & POLRI tidak berhenti pada kasus Paniai 8 Desember 2014, atau hebohnya bertia keterlibatan TNI & POLRI di Tambang Emas Nabire. Kekerasan apparat kepada warga sipil kembalali terjadi di Deyai pada 1 Agustus 2017. Kekerasan terjadi berawal dari seorang warga bernama Doupouga yang tenggelam di Kali Oneibo, tapi saat diangkat masih ada nafas.“Sehingga warga yang mau mengantarnya ke RSUD Madii Enarotali meminta bantuan ke pekerja di Camp Proyek Pembangunan Jembatan Kali Oneibo.

Para pekerja camp bersikeras tak mau mengantar,” warga akhinya jalan dan setelah beberapa jam kemudian sampailah mereka di RSUD Madii Enarotali. Tapi dokter di rumah sakit itu mengatakan kalau Doupouga sudah tak bernyawa atau meninggal dunia. “Setelah balik, warga emosi karena kendaraan milik Camp Proyek Pembangunan Jembatan Kali Oneibo tak dapat mengantar korban tenggelam. Masyarakat membakar camp mereka. Tidak lama kemudian Aparat Brimo kembali dating menyerang warga, melepaskan tembakan, Ada tujuh orang luka-luka, lima orang terkena tembakan dan dua orang hanya luka ringan tergores. Ketujuhnya masih di bawah umur 20 tahun dan mereka dilarikan ke RSUD Deiyai,

Agustinus R.Kambuaya

Direktur Papua Research Institute