Banjir Dan Kerugian Ekonomi Warga Kota Sorong

Sorong 13 Juni 2018 sejak pukul 12:00- WIT hingga dini hari 14Juni 2018 hujan menguyur Kota Sorong. Seperti tahun-tahun sebelumnya, luapan air merambat kemana-mana. Selokan, saluran bahkan got dan parit-parit penuh sampah sehingga luapan air makin menjalar tanpa arah. Jalanan penuh sampah plastik, botol, kayu berhaburan dimana-mana. Pemandangan makin tidak mengenakan. Banjir seolah menjadi langanan bagi warga Kota Sorong. Setiap tahunnya Kota Sorong tidak luput dari banjir, ibarat konsumen,  hujan dan banjir menjadi langanan tetap untuk warga kota minyak ini.

Hujan merupakan peristiwa alam yang tidak dapat diatur, digeser atau di hapus, sesuatu yang mutlak terjadi kapan saja dan dimana saja. Tetapi masalah banjir yang merendam Kota dan rumah warga tentu bukan semata bagian dari peristiwa alam tetapi banjir adalah bagian dari masalah sosial yang tidak di antisipasi oleh pemerintah, swasta dan seluruh warga yang  mendiami Kota Sorong. Banjir menjadi masalah sosial karena berdampak pada aspek lain yaitu masalah lingkungan dan terlebih masalah ekonomi.

Dampak ekonomi

Banjir yang terjadi berdampak secara lagsung terhadap aktivitas perekonomian warga Kota Sorong. Mengapa..? Luapan  air dari saluran, selokan dan got-got secara serampangan masuk ke rumah warga merendam rumah dengan fasilitas rumah berupa aset perabotan, kulkas, TV, dan juga kios-kios, toko-toko serta industry rumahan (Home Industri)menjadi tergangu aktivitasnya karena banjir yang melanda kota Sorong sepanjang minggu ini. Hujan yang lebih dari dua hari ini tentu mengangu jam kerja sebagian orang terutama masyarakat yang rumah-rumah mereka terendam banjir. Aktivitas produksi, perdagangan atau distribusi barang dan jasa ikut tergangu.

download (1)
Foto Lokasi Banjir Km.10 Kota Sorong

Jika kita melakukan analisis ekonomi dengan mengunakan logika yang sanggat sederhana dengan membuat skema dengan perkiraan bahwa, ada 1000 jumlah rumah warga yang terendam akibat banjir, dengan nilai kerugian setiap rumah jika di konfersi dari asset, benda atau peralatan rumah dengan masing-masing rumah mengalami kerugian Rp.5,000,000 x dengan 1000 rumah, maka kerugian ekonomi secara total yang dialami warga adalah senilai Rp. 5,000,000,000. Tentu ini nilai simulasi yang di perkirakan, kerugian tiap rumah dan total keseluruhan bisa lebih tinggi dari patokan nilai simulasi yang ada.

Siumulasi angka tersebut diatas tentu akan berubah ketika hujan menguyur Kota sepanjang minggu, maka omset dari setiap toko, kios, industry rumahan akan terhenti dan berdampak langsung terhadap income yang biasanya didapatkan setiap harinya. Stabilitas ekonomi rumah tangga warga Kota Sorong akan mengalami dampak secara langsung.

Kerugian Ekonomi Siapa Yang Salah

Ketika hujan menguyur kota lalu terjadi banjir besar yang melanda Kota sepanjang hari dan merendam rumah-rumah warga, maka pertanyaan yang akan timbul kemudian adalah siapa yang salah dalam hal ini…? Tuhan yang salah karea menurunkan hujan..?? Ataukah Dinas Kebersihan Kota Sorong Yang Salah ..?? Karena banjir membawa sampah berhamburan kemana-mana..? Ataukah Badan Lingkungan Hidp Kota Sorong..? Dinas Pekerjaan Umum Kota Sorong..?? Ataukah Warga Kota Sorong yang salah ….?

Pertanyan-pertanyaan diatas tentu merupakan pertanyaan-pertanyaan yang akan di jawab oleh semua komponen sesuai tugas pokok dan fungsinya masing-masing. Jika kita mencermati dengan baik banjir yang terjadi, maka banjir yang terjadi bukan semata-mata karena bencana alam, tetapi bencana sosial karena ada aspek kelalein mausia yang ikut memperparah kondisi banjir yang melanda Kota Sorong.

Ada beberapa aspek yang luput dari perhatian sehingga pada akhirnya menjadi aspek yang ikut memperparah kondisi banjir;

Drainase

Perencanaan pembangunan terutama pembangunan perkotaan amat penting memperhatikan system darinase. Mengapa …? Drainase sanggat penting karena merupakan usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas. Secara umum, system drainase dapat diusahakan sebagai seraingkaian pengunaan air yang berfungsi untuk mengurangi dan atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat berfungsi secara optimal.

Untuk konteks Kota Sorong, sebagai orang awam yang mengamati alur aliran air di Kota Sorong kita dapat menjumpai banyak daerah yang belum di bangunkan saluran air untuk mengatisipasi luapan air hujan. Kalaupun di bangun belum optimal menampung dan mengarahkan pergerakan air hujan sehingga terjadilah luapan air kemana-mana. Itu sekelumit pandangan awam tentang system drainase. Banyak juga jalan-jalan yang diaspal tetapi tidak ada system darinase yang bagus untuk menampung air pada musim hujan.

Lingkungan Dan Sampah

Aspek lingkungan dan sampah menjadi masalah yang  ikut memperparah kondisi banjir di Kota Sorong ketika musim hujan melanda. Dari aspek lingkungan, ada istilah “  jangan membangun di rumahnya air ” sebab jika pemilik rumah datang anda harus di usir  keluar. Begitu istilah yang sering saya bersama rekan-rekan diskusi dengungkan. Apa maknanya..? Ya, kalau membangun harus memperhatikan dimana alur dan aliran air, jangan sembarang mendirikan bangunan di jalur air, karena ketika hujan datang air akan mengalir memaksa rumah anda tercabut. Selama ini masyarakat asal membangun rumah, seenaknya mendirikan rumah di jalur dimana air melintas.

Dari sisi lingkungan kita juga belum diberikan data dan keterangan terkait identifikasi daerah rawan banjir, langanan banjir dan seterusnya. Aspek yang satu ini adalah soal kesadaran warga membuang sampah. Kota Sorong dengan slogan Kota Bersama, tapi kadang penulis memplintir Kota Sampah Bersama. Sebabnya, semua orang yang datang singgah, menetap di kota ini kadang tidak merasa memiliki kota ini, sehingga aktivitas dan produksi sampah rumahan, sampah industri kadang di buang sembarang dan ketika hujan dan banjir jadilah kota ini dihiasi sampah dimana-mana.

Lagi-lagi pertanyaan ini kita munculkan. Siapa yang salah dalam hal ini…?? Ya semua kita salah karena lalei dalam posisi kita masing-masing. Tetapi lebih dari semuanya ini, “ Pemerintahlah yang harus bertangung jawab sebab mereka yang memiliki tugas, tangung jawab, fasilitas dan anggaran yang besar yang di percayakan untuk mebgurus rakyat terutama di bidang lingkungan dan pembangunan fisik. Disamping itu kualitas lingkungan hidup yang sehat dan layak juga adalah amanat undang-undang yakni “  UU No.32 th.2009 Tentang Perlindungan Dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 3 (b) Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup bertujuan “ menjamin keselamatan, kesehatan dan kehidupan manusia “ dan juga pada pasal 3 (g) “Menjamin pemenuhan dan perlindungan hak atas lingkungan hidup sebagai bagian dari hak asasi manusia”

Selamat membaca dan berdiskusi. Kita menganut system pemerintahan demokratis dan terbuka (open government) masyarakat dapat mengakses informasi, mengontrol dan mengawasi bahkan mengevaluasi dan mengkritisi. Salah satunya melalui tulisan dan opini yang konstruktif. Karena itu, irisan tulisan ini adalah bagian dari demokrasi yang kita anut yaitu mengawasi dan mengontrol jalannya pembangunan untuk kebaikan bersama.

Oleh: A.R.K 

Ketua Forum Study Noken Ilmu Sorong Raya

Papua Barat