Nostagia Kacang Dan Bawang Maybrat Tempo Doloe

Foto Diambil Dari Google

“ Setiap masa dan daerah ada masa keemasanya, begitulah kejayaan kacang tanah dan bawang merah maybrat tempo doloe”

Kacang Tanah Maybrat Tempo Doloe

Pembaca setia informasi  media  Satu Papua.com dimanapun anda berada, kita tengah memasuki bulan dengan dua momentum penting. Bulan Juni 2018 yang penuh rona, kecemasan tetapi juga di aduk kebahagian yang sulit di gambarkan.  Kita sedang di suguhi momentum politik PEMILU serentak, ada bayak ketegangan yang menguras energi dan biaya. Saat yang bersamaan pesta sepak bola lima tahunan sekali (piala dunia) sedang menjadi topik utama, menjadi perbincangan offline dan online, terutama FB. Solidaritas, fans clup bergabung, nonton bareng, saling support, saling hujat menghujat dan seterusnya

Lupakan dua momentum penting itu, khusus pembaca Papua Barat, Sorong Raya dan khususnya negeri kabut berasap Maybrat. Mari kita pergi bernostagia dengan Maybrat tempo doloe. Sobat pasti bertanya ada  apa dengan Maybrat tempo doloe…?? Ada slogan setiap masa dan setiap daerah punya masa keemasannya sendiri-sendiri, begitulah ucapan yang bisa di sematkan kepada masyarakat Maybrat tahun 1980-an.

Ada lirik lagu di Maybrat Tahun 1980-an begini “ Kacang Bawang Pusatnya di A3”  Lagu yang mejadi trend di Maybrat era 1980-an ini bukan sekedar lagu biasa. Lagu ini merupakan ekspresi kebahagian, kebangaan masyarakat Maybrat dalam mengambarkan kejayaan pertanian atau perkebunan kacang tanah dan bawang merah yang cukup produktif di maybrat tempo itu.

images (2)

Kacang Tanah 

Ketika itu, masyarakat maybrat setiap kampung, setiap keluarga masing-masing punya 1-2 kebun kacang tanah dan bawang merah. Di masa itu boleh di katakan kacang tanah dan bawang merah jadi bagian dari sumber pendapatan ekonomi masyarakat, meski dengan harga yang tidak terlalu bagus, tetapi untuk ukuran tahun tersebut cukup memuaskan. Kacang tanah dan bawang merah juga menjadi sumber penghasilan keluarga untuk membiayai sekolah dan kuliah anak-anak mereka.

Kacang tanah menjadi identitas lain dari kebudayaan masyarakat Maybrat di era 1980-an. Ciri khas itu seperti ketika rekan, sahabat berkunjung ke Maybrat akan di jamu dengan makanan kacang tanah, bahkan kacang tanah akand di berikan sebagai oleh-oleh khas Maybrat.

Kacang Tanah Dan Dana Desa

Perubahan sosial terus berlanjut, dinamika sosial politik berkembang seiring berjalannya waktu. Begitu juga Maybrat yang dulunya berada dibwah pemerintahan Kabupaten Sorong  kemudian menjadi wilayah bawahan Kabupaten Pemekaran Sorong Selatan. Conectifitas transportasi darat, laut dan udara secara massif berubah pesat. Maybrat mulai terhubung secara cepat dan terhubung dengan Kabupatan dan Kota Sorong, Kabupaten Sorong Selatan dan Kabupaten Tambrauw bahkan Kabupaten Manokwari ibu kota Provinsi Papua Barat.

Perubahan yang terjadi dimanapun selalu mengisahkan dua sisi, perubahan kearah yang lebih baik atau berubah kearah yang lebih buruk. Begitulah juga maybrat setelah berkembang menjadi kabupaten defenitif tersendiri, ada banyak perubahan positif tetapi juga banyak yang negatif. Perubahan negative yang penulis maksudkan adalah perubahan di bidang pertanian. Diera dana desa yang setiap kampungnya mencapai 1 miliard rupiah per tahunya, mestinya menjadi peluang untuk memicu pertumbuhan ekonomi secara produktif dan positif. Realitas pertanian Maybrat di era pemekaran dan dana desa justru menunjukan trend negative.

bawang-merah-untuk-mempercepat-penyemaian-bibit.jpg

Foto Bawang Merah 

 Program pemerintah, dana desa yang di glontorkan disatu sisi menciptakan perubahan fisik infrastruktur tetapi disisi ekonomi terjadi kemuduran. Salah satu komonditi yang pernah menjadi unggulan dan andalan orang Maybrat yaitu kacang dan bawang malah hilang dalam pertanian maybrat. Ada banyak program pertanian dan perkebunan pemerintah yang turun ke kampung hanya orientasi proyek, bukan bersifat program pemberdayaan sosial yang menyangkut kesadaran masyarakat menjadikan kebutuhan pokok.

Masyarakat maybrat justru banyak meninggalkan pertanian yang menjanjikan pendapatan, sibuk mengurusi politik, menjadi pejabat apparat kampung karena gaji yang besar dan seterusnya. Pemandangan perdagangan maybrat sudah mulai berbeda, sayur-sayur khas mulai di jual oleh  pendatang dengan pasar keliling seperti mobil dan motor di Maybrat.

Melihat realita seperti ini, kita dapat berkata perubahan sosial yang terjadi di Maybrat bukan mengantarkan masyarakat maybrat menuju kemandirian dan kedaulatan pertaian atau pangan tetapi menuju ketergantungan. Kacang dan bawang yang dulu menjadi bagian dari aikon maybrat mulai hilang karena masuknya dana desa yang memanjakan masyarakat. Program dana desa membuat masyarakat maybrat mulai terbiasa dengan dana-dana besar dan mulai malas untuk bekerja. Pertanian terutama kacang dan bawang menjadi tidak menarik lagi saat ini.

Masyarakat lebih sibuk menjadi pekerja proyek pemerintah dan dana desa yang ada. Jika kita ingin buat perbandingan, bahwa dana desa yang sejatinya dari satu milliard itu diharapkan meningkatkan produktifitas ekonomi desa, baik pertaian dan perikanan, hingga saat ini tidak nampak hasil yang siknifikan, atau paling tidak ada ciri khas khusus maybrat yang berbeda. Kita sulit menyatakan maybrat adalah kabupaten penghasil ikan air tawar karena ada program ikan air tawar dari dinas perikanan, ataukah kita bisa klaim penghasil pangan umbi-umbian karena dinas perkebunan sedang galang program perkebunan keladi atau apa..? Tidak Nampak jelas disana, karena lagi-lagi semuanya semata memnuhi project pemerintah.

Hal berbeda dengan kacang bawang di era 1980-an yang di kerjakan secara swadaya  dengan kesadaran sosial kemandirian yang tinggi,  fasilitas yang terbatas, arus transportasi yang terbatas, tetapi saat itu Maybrat menjadi penghasil kacang dan bawang yang cukup terkenal dalam waktu yang lama yaitu 10-15 Tahunan. Ketika orang maybrat kemana saja, seketika yang di kenal adalah masyarakat petani kacang dan bawang yang produkti. Citra itu makin hilang di masa pemekaran ini.

Saat ini orang Maybrat bertemu orang luar maybrat, dalam perkenalan hal pertama yang akan di tanyakan orang luar adalah Maybrat aman kah…?  Bagaimana dengan ibu kota, di Ayamaru atau di Kumurkek…?? Pertanyaan-pertanyaan akan bermunculan seputaran politik dan ibu kota. Ciri Maybrat sebagai masyarakat dengan solidaritas sosial tinggi, pekerja keras perlahan tergerus bahkan hilang di ganti menjadi daerah konflik, masyarakat yang aktif berpolitik dan seterusnya.

Kacang Dan Bawang Peluang Sumber PAD Maybrat

Sub judul kacang dan bawang peluang sumber PAD Maybrat agaknya berlebihan, tetapi umumnya pembangunan dan perubahan itu bermula dari visi dan impian, tentu bukan hayalan. Visi Maybrat sebagai penghasil kacang tanah dan bawang merah bukan tidak mungkin. Bukan sesuatu yang butuh ketrampilan yang harus diadaptasi. Masyarakat Maybrat pada saat itu 1980-an sudah membuktikannya. Di era saat ini yang conecsi transportasi daratnya mendukung, secara modal cukup menjanjikan dengan dana desa setiap kampungnya satu milliard per tahun saat ini,  kita memiliki peluang besar untuk menciptakan hasil pertanian yang jauh lebih spektakuler lagi.

a0624e32-8a2f-44b0-9903-a394f9a53034_169

Foto Karyawan PT. Kacang Garuda Jawa Tengah 4.000 orang 

Mengapa kacang dan bawang penting untuk mendorong perekonomian Maybrat…? Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa 666 ribu lebih jiwa di Papua barat dengan kebutuhan konsumsi bawang merah untuk kebutuhan industry, home industry,  bahka individu selama ini sepenuhnya di pasok dari Sulawesi Utara atau Manado.

Selain manado, makasar bahkan Surabaya dan Jakarta, bahkan daerah jawa ikut menjadi penyuplai bawang merah bagi pasaran pangan lokal seperti pasar Remu Kota Sorong, Pasar Boswesen Sorong, Pasar Sanggeng Manokwari dan  pasaran di Papua Barat dan Papua umumnya. Pasaran di Papua dan Papua Barat umumnya  bergantung kepada komonditi pangan yang datang dari luar Papua. Pertanyaannya apakah kita tidak mampu bertani bawang merah…?? Tidak kita pernah punya kisah manis itu di Maybrat dengan lagu “ Kacang bawang pusatnya di A3”.

Khusus untuk komonditi kacang lebih punya peluang yang menjanjikan kalau di dorong oleh pemerintah. Mengapa..? Konsumsi kacang nasional meningkat, sementara produsen kacang Garuda, kacang duo kelinci membutuhkan bahan baku yang berkelanjutan. Sebut saja Provinsi Jawa tengah saat ini dengan Pabrik Kacang Garuda yang hadir disana berhasil menyerap lapangan kerja. Seperti di lansir Media online industri bisnis.com bahwa“ Saat ini, pabrik biskuit GarudaFood menyerap lebih dari 4.260 tenaga kerja. Sebagai pemain besar industri mamin, GarudaFood memimpin pasar di beberapa produknya, seperti, Kacang Garuda, Okki Jelly, Chocolatos, dan Mountea. Tidak hanya didistribusikan ke pasar domestik, produk GarudaFood telah disebarkan di berbagai negara Asean, India dan akan terus dikembangkan seiring dengan rencana bisnis jangka panjang perseroan untuk menjadi pemain regional”

Bukan tidak mungkin Kabupaten Maybrat  dapat menangkap peluang itu dengan menghidupkan kembali semangat pertanian kacang tanah. Jika 34 ribu jiwa Maybrat setiap keluarga memiliki 2-3 kebun kacang, ini cukup menjadi jaminan untuk menarik minat investor PT. Duo Kelinci dan kacang garuda untuk mendirikan pabrik disana, dan bisa menyerap lapangan kerja serta memberikan pendapatan kepada masyarakat.

Jadi pada prinsipnya mendorong masyarakat maybrat bertani kacang tanah dan bawang merah adalah program yang tepat karena telah memenuhi dua unsur penting. Secara pengetahuan tidak meragukan karena kita punya pengealaman, tinggal di tambah pendidikan, pelatihan dan pendampingan. Selain itu, peluang permintaan pasar akan kacang tanah dan bawang merah cukup tinggi. Peluang inilah yang perlu di tangkap dan di ciptakan bukan sibuk membangun wacana pemekaran atau letak ibu kota.

 

Agustinus R.Kambuaya

Ketua Forum Study Noken Ilmu Papua Barat

Kambuayaroby@gmail.com