Stop Teror Dan Intimidasi Kepada Mahasiswa Papua Di Jawa

Stop Teror Kepada Mahasiswa Papua Di Jawa. Satu Papua.com,  Sudah beberapa kali sepanjang Tahun 2016, 2017-2018  warga dan aparat keamanan di  Pulau Jawa melakukan tindakan mengepung mahasiswa Papua di Yogyakarta, Surabaya dan Malang. Pengepungan di lakukan saat mahasiswa/i serta pelajar asal Papua sedang  melakukan diskusi-diskusi. Aktivitas diskusi  merupakan upaya  meningkatkan kemampuan  intelektual mereka agar dapat berpikir rasional dan obyektif dalam menilai dan memandang setiap permasalahan sosial yang ada.

Jayapura 12 Juli 2018, Anggota DPRP Fraksi Otsus Jhon Gobay Perwakilan Wilayah Adat MEPAGO Mengatakan bahwa, mereka anak-anak Papua yang sedang menenempuh pendidikan di beberapa Kota Studi di Jawa dan Bali tidak mungkin mempunyai kekuatan super power untuk memerdekakan Papua melalui aktivitas diskusi mereka di kota-kota studi tersebut. Aktivitas mereka merupakan aktivitas intelektual ilmiah, sikap ingin tahu dan itu adalah prinsip dari ilmu pengetahuan yang mestinya di dukung oleh semua pihak.

Foto Suasana Saat Polisi Mengepung Asrama Mahasiswa Papua  Surabaya

Jhon yang pernah menjadi Ketua Dewan Adat MEPAGO tersebut mengatakan bahwa, kami masyarakat Papua dan Papua Barat sangat memperhatikan dan menghargai  Saudara/i warga pendatang,  terutama masyarakat pendatang dari Pulau Jawa di Tanah Papua. Mereka datang sebagai transmigran melalui program pemerintah sejak Taun 1960-an.

Untuk kepentingan transmigrasi telah terjadi pencaplokan tanah adat masyarakat di beberapa wilayah adat di Papua dan Papua Barat. Meskipun hak rakyat berupa tanah adat di caplok atas nama dan untuk kepentingan pemerintah,  tidak pernah terjadi perlawanan, pemberotakan atau pengusiran secara paksa dari masyarakat Papua terhadap mereka saudara/i pendatang tersebut. Untuk itu mari sebagai sesama anak bangsa saling menghagai keberadaan kita masing-masing.

Foto Suasana  Pengepungan Mahasiswa Papua Di Malang Oleh Warga Dan Aparat Keamanan

Menurut Gobay Warga Jawa di beberapa Kota study dimana anak-anak Papua berada hendaknya berperan sebagai orang tua bagi mereka dalam proses mengikuti studi disana. Kalau ada beberapa dari mereka membuat sesuatu yang tidak berkenan, itu sikap anak muda pada umumnya dan wajar sebagai anak muda dengan emosinal dan temperamen anak muda,  sehingga perlu di dekati dan di tegur secara baik-baik. Bukan sebaliknya warga berbondong-bondong bersama aparat mengepung seperti itu. Tindak itu justru terbalik di Papua. Masyarakat jawa di Papua ada juga yang buat hal-hal tidak wajar tetapi tidak mendapat penolakan atau pengusiran bahkan sangsi sosial yang tinggi dari masyarakat di Papua.

Foto Suasana Saat Polisi Mengepung Asrama Kamasa I Yogyakarta

Lanjut Jhon Gobay, Meminta Pemerintah Daerah Provinsi Papua dan Papua Barat, Pimpinan Anggota DPRP dan DPRP-PB agar segera menyurat secara resmi kepada pemerintah Daerah Yogyakarta, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Timur dan Kota Surabaya bahkan Malang untuk memberikan jaminan kepastian keamanan bagi aktivitas mahasiswa Papua disana. Selain itu, Pemerintah Papua dan Papua Barat juga melalui surat resmi meminta agar masyarakat dan aparat keamanan TNI & POLRI tidak lagi  melakukan  tindakan  rasisme terhadap mahasiswa/I Papua di seluruh pulau Jawad an Bali, karena tindakan-tindakan tersebut melangar HAM sesuai UU Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia.

Disamping itu, Pemerintah Daerah Papua Dan Papua Barat Juga perlu memanggil Paguyuban Jawa di Papua dan Papua Barat untuk menginformasikan dan memperingatkan agar melalui Paguyuban Jawa di Papua bisa berkomunikasi secara kekeluargaan kepada saudara/I mereka di tempat asal mereka,  bahwa perlu melindungi Papua di jawa, sebab di Papua mereka juga di lindungi bahkan di hargai oleh masyarakat Papua. Mereka nyaman, bebas kemana saja mencari nafkah, hal yang sama juga mestinya dilakukan oleh warga jawa di pulau jawa terhadap anak-anak Papua disana. Semua upaya ini merupakan langkah menjaga harmonisasi sosial diantara sesama anak bangsa. ***

Post By SP