Antara Mereka Dan Kita

#Catatan_Margi_Si_Regi_Korowai (12)

” Membangun Peradaban Suku Terasing di Papua Dulu, Sekarang dan Nanti”

Ntb 13.07.2018. Banyak catatan sejarah dari masa-masa awal pembangunan Peradaban Orang Papua, akhir tahun 1800 hingga tahun 1900, mengenai karya-karya para misionaris maupun amtenar (pegawai Departemen Dalam Negeri) dalam membangun orang Papua. Misalnya laporan-laporan zendeling yang dibukukan dalam Tiga Seri Tulisan Dr. Kamma berjudul “Ajaib di Mata Kita”, tulisan Rev. Don Richardson berjudul “Anak Perdamaian”, dll.

Kita mendapat gambaran bahwa mereka pada waktu itu (tahun 1800-an sampai 1900-an) terpanggil melakukan tugas terutama di bidang penyebaran agama, pendidikan, kesehatan, pertanian, pertukangan dan pemerintahan dalam keadaan yang sukar dan masih primitif . Mereka menjalankan tugas mereka dengan taruhan diri mereka sendiri dengan perhatian dan kasih yang besar untuk penduduk setempat, orang Papua. Kebanyakan mereka dibantu oleh istri yang menerima kehidupan di rimba yang riskan dan ikut tenggelam dalam pekerjaan mereka yang sering tegang.

Bukit Batu Aitumeri Wondama

Pada usia muda mereka sudah memikul tanggung jawab yang besar. Panggilan TUHAN dan panggilan tugas bertemu dan berpadu dalam watak petualang serta rasa tanggung jawab; semua itu berpadu dalam jiwa mereka. Tugas mereka kadang-kadang menghadapkan mereka pada situasi yang tidak terduga dan berbahaya yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Kebutuhan logistik mereka didukung oleh lembaga (gereja maupun pemerintah) dan donatur di negeri asal mereka yang jauh di seberang lautan. Mereka membuat laporan, kajian, curhat, mereka dan dikirim kepada lembaga yang mengutus atau mempekerjakan mereka. Di kemudian hari, tulisan laporan mereka ditulis dalam bentuk buku dan dari situlah kita generasi hari ini mendapat informasi tentang sejarah pembangunan peradaban kita.

~~♤♤♤~~~

Bagaimana dengan kita orang Papua sendiri?

Peran orang Papua dalam sejarah membangun Peradaban Orang Papua sejak dulu, dan apa lagi sekarang, besar. Banyak di antara mereka, khususnya dari wilayah yang lebih dulu mendapat pendidikan dari misionaris asing, menjalani dan mengalami pengalaman misionaris asing seperti di atas.

Perbedaannya, kita tidak menemukan dan membaca tulisan para pionir asli Papua itu. Tulisan yang kita baca saat ini adalah tulisan “tentang mereka”, ditulis oleh orang lain di kemudian hari. Bukan “ oleh mereka”. Misalnya tulisan tentang Guru Petrus Kafiar, orang pertama yang menjadi guru, ditulis oleh Pdt. Rumainum. Penginjil Zakeus Pakage ditulis oleh Dr. Benny Giay.

Mungkin karena budaya menulis bukan budaya kita. Budaya kita adalah budaya cerita. Budaya menulis baru kita adopsi dari budaya luar sejalan dengan pembangunan peradaban yang sudah sedang kita lalui.

Sesudah hampir 1 abad pembangunan peradaban Orang Papua, saat ini sudah ada banyak penulis profesional asli Papua yang membukukan karya-karya mereka. Umumnya tentang politik, HAM, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain karya ilmiah dan jurnalistik.

Sejalan dengan perkembangan di atas, masih banyak pula tenaga asli Papua yang berkarya sebagai penginjil/pendeta, guru, mantri, polisi, Kepala Distrik dll di balik gunung, di pesisir terpencil, di pedalaman yang jauh terisolasi yang luput dari upaya membukukan karya-karya mereka sebagai bagian dari proses membuat dan menulis sejarah Papua oleh orang Papua sendiri.

Misalnya yang terjadi dengan Suku Korowai. Tulisan tentang Suku Korowai yang dibukukan umumnya adalah hasil penelitian antropolog, tulisan relawan LSM dan misionaris — meskipun saya belum mengoleksi tulisan-tulisan itu. (Saya mendapat informasi bahwa salah satu karya seorang antropolog terkenal akan dibahas di Inggris pada 21 Juli 2018 nanti dihadiri antara lain oleh Prof. George Saa yaitu Putra Kebanggaan Papua yang lagi study di Inggris).

~~♤♤♤~~

Bila kita, orang Papua sendiri, pada masa kini hendak meniru teladan (revitalisasi) para pionir pembangunan Peradaban Orang Papua khususnya terhadap pembangunan Suku Terasing lain di Papua maka menurut saya ada beberapa hikmah yang bisa kita petik.

Untuk itu, menurut saya, kita perlu memikirkan beberapa warisan sejarah berikut. Pertama, orang Papua para pelaku pembangunan peradaban perlu dibantu memahami teknik sederhana untuk mendokumentasikan dan mempublikasikan foto dan tulisan sejarah, realitas hari ini serta perkembangan maupun pikiran dan perasaan mereka yang dialami dan diamati dalam pekerjaan mereka membangun peradaban Suku Terasing. Dengan bantuan medsos, dokumentasi ini bisa dipublikasi dan dikumpulkan untuk dibukukan.

Kedua, kita juga belajar warisan para misionaris tentang solidaritas mereka yang jauh di luar negeri, di seberang samudera dan benua terhadap pembangunan Peradaban Orang Papua. Pada usia muda mereka bersedia ke Papua, mereka memikul tanggung jawab yang besar, panggilan tugas bertemu dalam watak petualang rasa tanggung jawab yang berpadu dalam jiwa mereka. Tugas mereka kadang-kadang menghadapkan mereka pada situasi yang tidak terduga dan berbahaya yang tidak terpikirkan sebelumnya. Mereka menjalankan tugas mereka dengan taruhan diri mereka sendiri dengan perhatian dan kasih yang besar untuk penduduk setempat, orang Papua. Kebanyakan mereka dibantu oleh istri yang menerima kehidupan di rimba yang riskan dan ikut tenggelam dalam pekerjaan mereka yang sering tegang.

Magri Menembus Lumpur Menuju Lokasi Suku Kowai

Bagaimana dengan kita generasi muda Papua hari ini? Sejauh yang saya amati, banyak di antara kita yang bilang cinta Papua, baik sadar maupun saat mabuk, baik dalam ucapan maupun terutama melalui medsos, tetapi tidak banyak yang membuktikan kata-katanya dalam tindakan seperti teladan dari para misionaris pionir itu. Sudah waktunya kita mengambil teladan mereka sebagai panutan kita dalam membangun suku terasing seperti Suku Korowai. Bertindak bukan hanya berkata-kata.

Ketiga, warisan dari buku sejarah ini antara lain adalah bahwa tidak semua orang yang terpanggil itu harus datang dari negerinya ke Tanah Papua untuk membangun Peradaban Orang Papua. Banyak yang tinggal di negeri mereka dan mendukung dengan doa dan donasi. Mereka melalui lembaga gereja mengumpulkan donasi dan membiayai tenaga yang terpanggil membiayai pembangunan Peradaban Orang Papua mendahului peran pemerintah.

Bagaimana dengan kita, orang Papua atau orang yang hidup di Tanah Papua, hari ini? Kita yang tinggal di kota-kota. Adakah yang bisa kita lakukan untuk mendukung para petugas sosial untuk membangun Peradaban Suku Korowai?

Banyak yang mengatakan itu tugas pemerintah (apalagi di jaman Papua banjir dana Otsus) tapi jika tangan pemerintah belum menjamah mereka, bisakah kita menjamah mereka lebih dulu seperti teladan para misionaris dahulu yang hari ini sangat kita syukuri dan banggakan?

~~♤♤♤~~~

Selamat menikmati weekend anda. Jangan lupa mendoakan Margi (Guru Imelda Kopeuw), Keluarga Mantri Wambrauw, dan saudara Yan Akubiarek di Kampung Terpencil Brukmahkot (Suku Korowai Batu).

Salam
A.n. Margi
Sahabat Margi

(Sekretaris)

Catatan : refleksi ini saya (Margi) buat sesudah kembali dari Wondama dalam rangka napak tilas mempelajari karya-karya Pdt. I. S. Kijne membangun Peradaban Papua. Saya menuliskannya dalam potongan-potongan catatan yang saya kirim kepada Sahabat Margi untuk nanti kemudian diposting di akun facebook saya. Margi.

Foto : Foto Pertama, batu di Bukit Aitumeri Wondama tempat Pdt. I. S. Kijne suka berdoa dan menggali imajinasi dan ide bagi Pembangunan Peradaban Papua. Batu ini kemudian hari disebut Batu Peradaban Papua walau sesungguhnya batu itu adalah situs sejarah yang mengingatkan kita pada pergumulan, visi dan karya-karya Ds. I. S. Kijne. Foto Kedua dan Ketiga : perjalanan saya dari Danuwage ke Brukmahkot (10 jam jalan kaki) pada Maret 2018 untuk memulai proses menjadi Guru untuk anak-anak Suku Korowai Batu.