Upaya Polisi Bubarkan Paksa Aksi Solidaritas Mahasiswa Sorong Raya

” Aksi Solidaritas Tanpa Batas Mahasiswa Sorong Raya Untuk Mahasiswa Papua korban kekerasan aparat keamanan di  Yogyakarta,  Malang Dan Surabaya.” 

Satu Papua.com; Sorong 17/07/2018,  Solidaritas Mahasiswa Sorong Raya turun ke jalan melakukan aksi sebagai bentuk solidaritas dan protes terhadap tindakan represif  aparat keamanan kepada Mahasiswa/i Papua di Surabaya pada tanggal 06 Juli 2018 lalu.  Tindakan aparat ini dilakukan pada saat mahasiswa Papua di Surabaya  berkumpul untuk berdiskusi dan menonton film sembari menunggu waktu tayang Piala Dunia. Tepat jam 20:30 WIB sekelompok aparat keamanan  medatangi Mahasiswa/i Papua yang sedang berdiskusi tersebut dan membubarkan diskusi yang sedang berlangsung.

Menyikapi tindakan intimidasi, teror  aparat  kemanan kepada mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang tersebut, mahasiswa yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa Sorong Raya pada 17/07/2018,  melakukan aksi protes di depan Kantor PORLESTA Kota Sorong (Depan Toko Tio). Aksi mulai di gelar sejak jam 09:00 WIT.  Rangkaian  orasi secara bergilir disampaikan oleh perwakilan pemuda dan mahasiswa.

Pada umumnya tuntutan masa aksi mengecam dan mengutuk tindakan represifitas berlebihan kepada mahasa/i Papua yang sedang menempuh studi di luar Papua, secara khusus rangkaian intimidasi, teror kepada mahasiswa Papua di Yogyakarta, Malang hingga yang terkahir 06 Juli 2018 di Surabaya. Tindakan aparat merupakan bentuk pembunuhan terhadap proses pembangunan kesadaran sebagai wujud peningkatan sumberdaya manusia khususnya anak-anak Papua yang sedang study di Pulau Jawa dan Bali. Menurut salah atu orator aksi  AR, bahwa cara-cara represif  terhadap kebebasan berkumpul merupakan pembungkaman demokrasi di Indonesia dan khususnya Papua.

Aksi yang di berjalan baik dengan rangkaian orasi, selingan  puisi dan lagu-lagu mars daerah, mars nasional ini kemudian   mulai memanas, Situasi aksi  memanas ketika pihak kepolisian RESORT Kota Sorong mendatangi masa akasi dan meminta masa aksi segera membubarka diri. Negosiasi antara masa aksi dan pihak PORLESTA  Kota Sorong berlangsung dan  terjadi kesepakatan antara masa aksi dan pihak kepolisian,  bahwa  aksi tetap di lanjutkan hingga jam 15:00 WIT dengan syarat tidak membakar ban mobil yang dibawa.

Ratusan mahasiswa yang tidak menerima kalau aksi mereka  di tekan bahkan datur berlebihan spontan beradu argumen dan  membuka baju-baju  mereka lalu  membakarnya sebagai bentuk protes atas tindakana aparat keamanan kepada saudara/i mereka di Surabaya. Polisi yang tidak menerima mahasiswa membakar baju-baju mereka lalu beradu mulut, insden saling dorong mendorongpun terjadi.

Polisi akirnya menarik, memukul dan menyeret beberapa pimpinan mahasiswa yang sedang beradu argumen. Polisi kemudian menyeret Ketua HMI MPO Kota Sorong AR.  AR  di pukul,  di seret  dan mau diangkut dengan mobil kedalam PORLESTA Kota Sorong. Masa aksi yang tidak menerima pimpinan mereka di pukul dan hendak di bawa ke PORLES spontan melakukan  protes dan terjadi tarik menarik antara masa aksi dan polisi.

Meskipun pihak PORLES Berupaya membubarkan paksa aksi mereka dengan mencoba menangkap beberapa pimpinan aksi tidak  menyurutkan semangat masa aksi. Masa aksi tetap bertahan dan tidak mau membubarkan diri. Aksi kembali dilanjutkan hingga berakhir pada Pukul 15:00.

Menurut AR yang adalah KORLAP aksi saat di temui Satu Papua di lokasi aksi mengatakan bahwa, ia dan masa aksi kesal dengan tindakan semena-mena aparat terhadap aksi yang dilakukan. Lanjut AR, aksi mereka dilakukan dengan tujuan meminta semua pihak untuk menghentikan cara-cara kekerasan yang dilakukan oleh aparat keamanan di Jawa maupun di Papua bahkan dimana saja, terutama dalam hal membungkam proses demokrasi. Kita sebagai negara demokrasi menjamin kebebasan berkumpul, berserikat, menyampaikan pendapat termasuk berdiskusi. Mengapa aparat begitu arogan terhadap aktivitas positif yang dilakukan oleh Mahasiswa/i Papua di Jawa dan Bali.

Untuk itu, Solidaritas Mahasiswa Papua Sorong Raya Meminta Agar Pemerintah Daerah  di Jawa dan Bali bahkan  di Papua sendiri  harus memberikan jaminan keamanan kepada mahasiswa Papua dan juga membuka ruang demokrasi seluas-luasnya. Oknom aparat yang melakukan tindakan represif, teror dan intimidasi kepada mahasiswa Papua di Yogyakarta, Malang dan yang terjadi baru-baru ini di Surabaya  harus diadili secara hukum.

 

Author By; RB,SP..**@23