Degradasi Alam Dan Kerugian Ekonomi OAP

Meski Provinsi Papua Barat telah di  kampanyekan sebagai Provinsi konservasi tidak serta merta menghentikan eksploitasi hutan dan kayu yang sedang berlangsung. Eksploitasi terus berlanjut dengan pembalakan hutan. Nasib malang tanah Moi, eksploitasi hutan, minyak, ikan di  tanah Moi sejak zaman NNGPM Belanda hingga era Indonesia dan Otsus saat ini menciptakan friksi kerusakan lingkungan, pelangaran hak masyrakat Adat hingga degradasi sosial dan budaya masyarakat asli Moi.

Ilegal loging atau eksploitasi hutan tanah moi bukan sekedar wacana belaka, 14 Februari 2019 sebuah foto yang di unggah di sosial media oleh komunitas pentualangan Malamoi tentang aktivitas pengangkutan kayu oleh salah satu perusahan swasta yang sedang beroperasi di Distrik Maudus dan Sayosa Timur Kabupaten Sorong, tepatnya di kampung Selala, perusahan melakukan pengangkutan   kayu bulat (kamtamus/merbau) keluar dari hutan Moi. Kayu endemik di tanah Moi ini terus di buru demi kepentingan idustri di luar tanah Papua.

Melihat potret ilegal loging ini kita kemudian bertanya sudahkah Otsus dengan segala janji manis dan kebijakannya mampu melindungi masyarakat adat Papua khususnya pemilik tanah moi dari hasil hutan mereka..?

Ini juga suatu kondisi paradok dua sisi, dimana provinsi ini baru saja mendapat penghargaan dari Norwegia tentang upaya penyelamatan hutan, namun kondisi yang terjadi sebaliknya. Antara harapan dan kenyataan di tanah yang di syairkan surga kecil yang hilang ini, kini menjadi ironi dan nestapa bagi masyarakat  penghuni tanah surga ini.

*****Post By Sp