Degradasi Hutan Ancaman Bagi AOP Dan Seluruh Ekosistem Didalamnya

Kerusakan lingkungan akibat ilegal loging dan konfersi lahan untuk perkebunan sawit berdampak luas pada semua aspek kehidupan, bukan hanya pada aspek hutan, manusia atau masyarakat adat tetapi kebudayaan dan seluruh ekosistem yang ada.

Ilegal Loging & Ekpansi Sawit 

Ilegal loging yang masif di Papua secara ekonomi  menguntungkan pengusaha kayu olahan maupun kayu bulat. Idustri mebel dan lain sebagainya meraup untung yang besar dari usaha di bidang ini.

Tidak hanya pengrusakan hutan dan lahan demi mendapat kayu untuk pembangunan, namun industri sawit yang sedang menjadi primadona ikut mengonfersi lahan demi produksi sawit yang berkelanjutan untuk kepentingan idustri dan pasar.

Ekspansi sawit yang mengonfersi lahan dan tanah masyarakat adat terus meningkat  dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006 lahan yang di konfersi dari 6,5 Juta menjadi 13,5 Juta hektar pada tahun 2013 (sawit watch 2013). Luasan ini menjadikan indonesia sebagai salah satu produsen sawit terbesar di dunia. Pada Tahun 2017 tercatat minyak sawit menyumbang 18  Miliard USD, Kontribusi yang cukup fantastis mendekati penghasilan sektor migas.

Meski disisi ekonomi minyak kelapa sawit menyumbang kontribusi postif yang di gambarkan pada tingkat pendapatan 18 Miliard USD tersebut, namun disaat yang bersamaan pada sisi yang lain secara khusus lingkungan dan hutan serta masyarakat adat tercatat fakta yang berbeda.

Keberadan hutan tropis Papua terus menyusut atau terjadi proses deforestasi setiap tahunnya. Pada tahun 2005 -2009 luas hutan Papua  42,22 Juta hektar, menjelang tiga tahun kemudian mengalami degradasi atau penyusutan hutan 30,07 Juta hektar dengan data deforestasi hutan Papua 143,680 hetar per tahun. Sementara laju deforestasi di Papua barat setiap tahunnya mencapai 293 ribu hektar atau 25%.

Kondisi ini tentu menjadi paradoks, dimana di satu sisi laju pertumbuhan ekonomi yang di sumbang oleh sektor kelapa sawit menunjukan tren positif tetapi di sisi lingkungan menunjukan sentimen negatif, dimana terjadi defirestasi dan degradasi lingkungan yang cukup ironis dan mengancam semua aspek kehidupaan masyarakat adat Papua.

Satwa Endemik Yang Terancam Punah 

Ancaman degradasi lingkungan dan hutan akibat ilegal loging dan konfersi lahan sawit bukan hanya di rasakan dan dialami langsung oleh masyarakat, tetapi seluruh ekosistem alam termasuk burung-burung ciptaan TUHAN ikut mengalami ancaman serius akibat laju defirestasi yang terjadi. Alih-alih mengejar profit dan surplus pendapatan negara, pemerintah dan para pemodal ikut melakukan pelangaran moral lingkungan.

Habitat yang menjamin kehidupan satwa langka Papua juga terancam. Fenomena migrasi akibat pembangunan bukan hanya terjadi pada manusia tetapi burung-burung langka seperti burung cenderawasih, kaka tua, mambruk, burung taon-taon juga akan bermigrasi ke wilayah lain bahkan negara lain akibat ulah manusia yang mengejar keutungan tanpa memandang sisi kemanusian dan alam yang lalinnya.

Papua surga kecil yang di syairkan, pada suatu masa akan balik menjadi neraka atau petaka bagi penghuninya. Pada suatu masa entah 30 tahun mendatang atau 50 tahun mendatang akan tercatat di literatur-literatur dunia bahwa pernah ada satu tempat di dunia yang mirip surga, dimana nyanyian burung surga terdengar merdu, syair kota emas, semua fakta ini akan menjadi mitos di masa yang akan datang seperti cerita kejayaan imperium rowami, kejayaan majapahit, sriwijaya dan cerita-cerita kejayaan dunia yang pernah ada lalu hilang begitu saja. Perlu adanya konsep pertumbuhan ekonomi berjalan bersamaan dengan hutan dan lingkungan yang hijau (green economic) dan rakyat yang sejahtera.***

Ark: Noken Ilmu