Nduga Papua Yang Dilupakan Dan Palestina Yang Di Bantu

Papua 13 maret 2019 situs berita online Jubi mempublikasikan satu berita dengan judul “ anak-anak Nduga Jatuh pingsan karena lapar”.  Diberitakan bahwa sudah sebulan anak-anak korban konflik Nduga berada di Jayawijaya tepatnya di halaman gereja Kingi Jemaat Weneroma, Ilekma, Wamena.

Meski sudah mendapat pelayanan dari relawan dan pemerintah seperti penyediaan tenda-tenda untuk menginap sementara, sekolah darurat dan kebutuhan bahan makanan. Pelayanan-pelayanan tersebut belum mencukupi  kebutuhan mendasar anak-anak pengungsi Nduga.

Setelah satu bulan berada di Wamena, anak-anak korban konflik Nduga  mengalami masalah baru, persoalan kesehatan menjadi masalah lain yang muncul kemudian. Awalnya seorang anak dari korban konflik nduga jatuh pingsan saat belajar. Setelah di cek oleh teman-teman dan gurunya, ternyata anak tersebut belum makan. Anak murid yang pingsan menuturkan, kalau dirinya hanya makan satu kali sehari. Tidak hanya anak murid yang mengalami kesulitan makanan, ratusan orang tua mereka juga mengalami masalah kekurangan ketersedian makanan.

Menurut keterangan relawan “ Ence Geong” sebelumnya kepada media online jubi,  bahwa hasil pemeriksaa kesehatan yang dilakukan oleh para relawan ternyata ada 37 anak yang sakit dan 20 an anak tidak bisa di layani karena kekurangan obat-obatan.

Selain masalah kesehatan, masalah pendidikan juga belum sepenuhnya teratasi dengan baik. Saat ini sudah ada 613 anak tingkat SD,SMP, SMA mereka belajar di sekolah darurat, mereka di ajar oleh 80 Guru, dan di bantu oleh 17 orang relawan. Dengan kondisi sekolah darurat yang masih kekurangan ruang kelas.

Antara Nduga Dan Palestina

Sebelum berita kasus kelaparan anak-anak korban konflik Nduga pada 13 Maert 2019, situs berita online inews.com pada 8 Maret 2019 merilis berita teraktual yakni bantuan kemanusian pemerintah Indonesia kepada korban pengungsian konflik Palestina.

Menteri luar negeri (MENLU-RI) Retno Marsudi bersama Komisioner Jenderal Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) Pierre Kr. Henb HI menandatangani perjanjian konrtibusi kemanusian Indonesia kepada pengungsi Palestina yang sedang berada di Jerash Camp, Yordania.

Kemneterian Luar Negeri Republik Indonesia memberikan bantuan sebesar 1 Juta USD, atau jika di rupiahkan setara 15 Miliar Rupiah. Anggaran tersebut di donasikan oleh pemerintah Indonesia untuk kebutuhan makanan dan kesehatan warga Palestina yang sedang mengungsi.

Menurut ARK Ketua Forum Study Noken Ilmu Papua, Bantuan Pemerintah Indonesia kepada korban pengungsian Palestina bisa di pandang dari sisi kontribusi Indonesia sebagai negara anggota PBB pada konteks kemanusia. Dan juga sejalan dengan prisip politik luar negeri indonesia bebas dan aktif. Bebas bersikap tetapi juga aktif menjaga perdamaian dunia, termasuk promosi dan proteksi terhadap aspek Hak Asasi Manusia (HAM).

Lanjut ARK, Kortibusi kepada Palestina merupakan bentuk solidaritas internasional terhadap kemanusian. Namun, untuk konteks Indonesia saat ini sedikit diskriminatif. Mengapa..?? Sebab di dalam negeri kita punya masalah lain, yaitu korban konflik atau  pengungsi Nduga Papua yang sudah 1 bulan berada di wamena Papua dan  masih belum mendapat pelayanan yang istimewa, masih banyak kebutuhan dasar yang belum  terpenuhi, oleh karena itu, menurut ARK Negara kita tidak perlu sibuk bersolidaritas dan membangun pencitraan.

Solidaritas internasional penting, tetapi tidak sampai  mengesampingkan, melupakan bahkan diskriminasi terhadap warga negara yang sedang menjadi korban di Nduga Papua.  ARK dan Noken Ilmu Berharap ada asas keseimbangan, keadilan dan pemerataan dalam memandang kasus kemanusian yang terjadi. ***