Eksistensi Budaya Papua Di Persimpangan Zaman

Perubahan sosial di abad milineal ini amat sanggat cepat, tak terkecuali Papua juga ikut mengalami perubahan. Dibidang ekonomi, trend bisnis terus meningkat, baik bisnis online maupun offline sedang memboming.

Dibidang sosial budaya perubahan begitu cepat, baik seni lukis, tari, lagu, sastra dan lain sebagainya mengalami perubahan duakali lebih cepat. Ada banyak teori dan pendekatan yang bisa di gunakan untuk menjelaskan perubahan ini, salah satunya teori perubahan sosial.

Bahwa perubahan sosial merupakan proses panjang dan bertahap “ Unlinear Theories Of Evolution” Teori ini berpendapat bahwa manusia dan masyarakat termasuk kebudayaan akan mengalami perkembangan sesuai dengan tahapan tertentu dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang kompleks dan akhirnya sempurna (Aaguste Comte dan Herbet Spencer).

Jika kita berdiri diatas asumsi teori perubahan sosial diatas yang melihat perubahan sosial Papua, maka realitanya terbalik. Papua bukan melalui tahapan evolusi dari sederhana menuju sempurna, tapi satu lompatan kelas sosial yang revolusioner.

Dibidang seni dan budaya, perubahannya sanggat cepat dan boleh kita sebut pecahan sosialnya menjadi berantakan. Sebagai contoh seni musik, pada generasi 1980-an hingga awal 1990-an masih terdapat nuasa dan selera tradisiona.

Anak-anak muda zaman ini masih gemar musik tradisional, mambesak, lagu-lagu Pop daerah. Seni lukis dan seni tari juga sama, tren anak mudanya adalah menari yospan, tarian tradisional sesuai suku-sukunya masing-maisng. Bahkan bahasa pun masih sering kita dengar di tuturkan oleh penuturnya di tempat-tempat umum, atau di komunitas-komunitas mereka.

Keadan berubah sejak era 2000-an, seni dan budaya berubah begitu cepat, mengalami revolusi total di bidang kehidupan seni dan kebudayaan. Dance-dance moderen mulai di tiru oleh anak-anak muda. Munculnya budaya meniru itu sebagai suatu kelebihan dan kebangaan ketika bisa memainkan dance moderen wilayah lain atau negara lain.

 

Biasa dalam bahasa melayu Papua dong bilang”Ko tra gaul kalau ko tratau disko, kalau ko masih menari tarian tradisional, main gitar, ukulele, tifa, atau sejenisnya. Ko tra gaul juga kalau ko trabisa bahasa inggrish yang sedang jadi bahasa internasional dan seterusnya. Bahasa  inggris memang penting sebagai kebutuha global, tapi bahasa daerah juga penting untuk di pertahankan.

Pengaruh teknologi informasi, koran, TV, Youtub, Facebook, Wa, Twiter, dan lain-lain telah menghadirkan berbagai macam kebudayaan baru, lagu, music, alat music dan berbagai macam elemennya. Anak-anak muda Papua mulai hanyut kedalam trend model yang sedang menguat di media-media yang ada.

Jadilah mereka memproduksi budaya baru, tong bisa sebut percampuran budaya asimilasi atau akuturasi budaya. Anak-anak muda berkumpul lalu memproduksi sendiri budaya moderen atau milineal. Tak heran gam nam stail asal korea, goyang patola sudah mengantikan goyang yospan atau tarian.

Melihat semua yang berubah cepat itu kita jadi bertanya..? Apakah perubahan sederhana menjadi perubahan sempurna adalah kalau kita mengadopsi budaya lain..? Ataukah perubahan adalah merubah dan menghilangkan budaya yang ada dan mengantikan dengan budaya baru…?

Jawabanya tidak, itu bukan perubahan, itu kekalahan kebudayaan lokal terhadap derasnya budaya luar yang masuk ke Indonesia atau masuk ke Papua. Ketika krisis kebudayan ini terjadi, apa yang dapat kita lakukan sebagai penangkalnya..?

Setiap suku-suku kembali meorganisir kebudayan mereka, lembaga-lembaga adat tidak sekedar menjadi lembaga rekomendasi untuk seleksi MRP atau seleksi DPR Otsus atau jadi humas pemerintah, jadi aktor mediasi konflik perusahaan dan seterusnya.

Kita boleh berubah tetapi jati diri dan kebudayaan kita juga tidak ikut hilang. Selamat mendalami kebudayan masing-masing, mulailah dari bahasa, seni, tari dan nilai-nilai sosial yang hidup di etnis masing-masing. Budaya diberikan oleh TUHAN Melalui hikmat untuk meciptakan bahasa sebagai alat komunikasi, seni sebagai ekspresi kebahagian dan lain sebagaiya.

Tirulah budaya-budaya baik seperti tekonologi digunakan sebagai media untuk memasarkan produk-produk lokal, atau bisnis online yang cukup menarik saat ini. Banyak produk-produk ekonomi Papua belum populer, go nasional atau go internasional dan seterusnya.

Atau sudah ada alat musik moderen yang digunakan untuk memainkan irama musik tradisional yang khas Papua. Sama seperti musik khas porto, spanyol, latin america dll. Selamat mengarungi era milineal tanpa batas. ****

Ark: Forum Study Noken Ilmu