Sepengal Kisah Hidup Lamadi Delamato, Dari Abe Pantai Ke Amerika Serikat

Lamadi Delamato-Julian Howay

LAKI-Laki Buton-Papua kelahiran Abe Pantai, Jayapura, Tanah Papua, pada foto di sebelah saya ini memang de asliii skaliiii..! Kalo sa mo tulis tong dua pu kisah pertemuan hingga menjadi kawan karib yang dimulai dari menjadi wartawan dan penulis pejalan kaki di Abepura, Jayapura, Tanah Papua, lalu memutuskan nekat merantau jauh hingga menaklukan jalanan kota New York, New Jersey, Atlanta (Georgia) hingga kota-kota lain di Amerika Serikat, mungkin bisa menjadi kisah yang menarik.

Laki-laki ini de pu kisah hidup memang menarik dan bisa memberi inspirasi tentang lika-liku suatu perjuangan hidup. Dia lahir pada 15 Mei 1976 dari keluarga komunitas Buton kurang mampu yang berprofesi sebagai petani sekaligus nelayan tradisional.di pinggiran Abe Pantai (Abepura Pantai), Jayapura.

Pace dia sempat menyelesaikan SD di kota kelahiraannya. Lalu dalam usia masih kanak-kanak dia memberanikan diri merantau ke Ambon Maluku. Di Ambon laki-laki dia hanya hidup di jalanan, pasar dan  terminal unutk mencari nafkah guna bertahan hidup.

Buku Bola Liar Lamadi
Salah satu buku karya Lamadi de Lamato “Bola Liar Kegagalan Otsus.”

Beruntung, dia sempat berhasil menamatkan pendidikan SMP di kota Ambon. Kemudian dia memutuskan lari atau merantau lagi ke Dili Timor Leste di awal 1990-an dan bersekolah hingga menamatkan SMA di kota tempat para pejuang TL seperti Ramos Horta dan Xanana Gusmao tinggal. Di negara yang pernah menjadi bagian dari Provinsi di Indonesia ke 27 ini, ia terinspirasi untuk menambah nama belakang “de Lamato” pada namanya sehingga menjadi Lamadi de Lamato.

Dari Dili ibu kota negara TL sekarang, pace Lamadi memutuskan merantau dan kuliah di Jakarta dengan bekal uang receh yang diperoleh dari hasil menjual ayam curian milik tetangga. Hahahaaaa… Di Jakarta, dia tinggal bersama komunitas pelajar dan mahasiswa Timor Leste, lalu berkuliah di Universitas Muhammadiyah, Ciputat.

Keseharian hidupnya dia kadang lakoni dengan menjadi juru parkir bersama para preman di Stadiun Gelora Bung Karno (GBK), Senayan dan beberapa tempat. Selama di Jakarta, selain kuliah dan hidup bersama komunitas TL, sesekali ia bergabung dengan kawan-kawan Papua-nya.

Lika liku hidupnya di Jakarta ia lalui dengan pernah menjadi aktivis 98, menjadi pengurus besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), hingga sempat menjadi ketua mahasiswa Muslim TL dan terlibat bersama aktivis mahasiwa TL dalam perjuangan kemerdekaan di tanah rantau Jawa. Pengalaman hidup ini membuatnya punya beberapa teman yang pernah menjadi menteri dan orang penting di jajaran kabinet negara Timor Leste merdeka.

Setelah lulus kuliah, dia sempat menjadi staf ahli Anggelina Sondakh (mantan puteri Indonesia, artis dan anggota DPR RI). Ia pun sempat mengambil kuliah Magister (S2) jurusan Filsafat di Universitas Indonesia (UI) Depok. Tapi tidak sampat selesai karena persoalan biaya, dan lain-lain. Dia juga terpaksa berhenti sebagai staf ahli di DPR RI, lalu memilih merantau balik ke tanah kelahirannya, Jayapura, Tanah Papua, setelah selama kurang lebih 20 tahun tidak pernah pulang.

Pengalamannya selama menjadi seorang aktivis yang gila membaca buku (kutu buku), berdiskusi, debat, sempat menjadi wartawan, pernah mengorganisir demonstrasi besar saat huru-hara aktivisme gerakan reformasi 1998/1999, telah membentuknya menjadi seorang aktivis dan penulis berbakat!

Dengan bekal itu dia memutuskan pulang kembali ke Jayapura, Tanah Papua. Di kota kelahirannya ini, pace Lamadi bekerja sebagai penulis kolom opini (kolumnis) lepas di beberapa media lokal dan dari pekerjaan ini bisa mendapat sedikit honor menulis. Ia juga bersama istrinya menjual buku-buku yang dikoleksi.

Dengan berjalannya waktu, dari kumpulan tulisan seorang Lamadi de Lamato selama menjadi kolumnis, terbitlah sejumlah karya buku. Salah satunya berjudul “Bola Liar Kegagalan Otsus” yang berisi esai-esai pendek kritis mengenai pelaksanaan Otonomi Khusus Papua yang maju-mundur.

Sebelumnya, dia sempat memberanikan diri menulis biografi dari Lukas Enembe (kini Gubernur Papua dua periode), yang saat itu masih menjabat wakil bupati dan kemudian menjadi bupati Puncak Jaya. Awal mula rencana penulisan buku biografi kaka LE terjadi ketika Lamadi bertemu pace LE di Jakarta dan menawarkannya untuk menulis biografinya yang kemudian populer dengan judul “Jalan Terjal Anak Koteka Meretas Impian.”

Selain menjadi penulis, pace Lamadi pun sempat menjadi dosen paruh waktu di FISIP Universitas Sains & Teknologi Jayapura (USTJ). Namun dia tidak bisa bertahan lama sebagai dosen di kampus ini. Lantaran ditolak mengajar karena dia hanya berpendidikan strata satu (S1) ilmu ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Jakarta. Penolakan ini pun pernah dia alami saat saya membawanya bertemu beberapa dosen senior di FISIP Uncen, untuk meminta agar Lamadi bisa mengajar sesuai dengan bakat yang ada pada dirinya.

Dari bekal skilnya menulis dan dikenal di kalangan wartawan, aktivis dan penulis Papua, Lamadi akhirnya diangkat menjadi staf ahli DPR Papua yang membantu Ruben Magai, anggota DPR Papua dari Fraksi Demokrat dan kawan-kawanya di komisi mereka. Tidak lama kemudian dia diangkat lagi menjadi juru bicara (spoke person) oleh Lukas Enembe, yang ketika itu baru terpilih menjadi Gubernur Papua periode pertama (2013-2018).

Sebagai seorang kawan karib, saya mau bilang bahwa mungkin karena dari goresan tangan seorang Lamadi de Lamato lah, lewat buku “Jalan Terjal Anak Koteka Meretas Impian,” sosok kaka Lukas Enembe, sebagai anak koteka yang dalam dinamika politik lokal Papua saat itu kurang diperhitungkan, bisa dikenal (populer) hingga merintis jalan menjadi seorang Gubernur Papua.

Kaka LE telah melangkah dengan pasti hingga mampu menyingkirkan kedigjayaan kelompok SOS (semua orang Sorong, semua orang Saireri dan semua orang Sentani) yang selama bertahun-tahun mendominasi jabatan dan struktur birokrasi Provinsi Papua (dulu Irian Jaya). Tidak hanya itu, kaka LE lantas menjadi sosok inspirator bagi politisi dan generasi anak-anak koteka dari Pegunungan Tengah Papua untuk melangkah maju dengan percaya diri.

Tak lama atau hanya kurang lebih dua tahun menjadi seorang juru bicara Gubernur LE, pace Lamadi de Lamato lantas dipecat dengan tidak hormat ! Ada kasak kusuk yang berkembang bahwa seorang Lamadi dipecat karena tidak disukai dan karena sempat berkonflik kepentingan dengan beberapa pejabat dan orang dekat Gubernur LE. Orang-orang inilah yang barangkali telah berbisik ke telinga Gubernur LE untuk memecat Lamadi.

Saat dia dipecat, sy masih berstatus mahasiswa jurnalistik di Scottsdale, Phoenix, Arizona, AS, yang studi dengan beasiswa Aminef Fulbright lewat CCI Program. Jadi saya hanya mengetahui lewat postingan foto koran di facebook dari teman-teman di Jayapura bahwa Lamadi de Lamato, seorang juru bicara Gubernur LE, yang nota bene penulis beberapa buku biografi Gubernur LE dipecat.

Saat diangkat sebagai staf khusus dan juru bicara Gubernur LE, Lamadi punya dasar hukum berupa surat keputusan (SK) Gubenur tentang pengangkatan dirinya. Tapi saat dipecat, dia tidak menerima surat pemberhentian sebagai juru bicara, hingga tak mendapat sepeser pun uang pesangon! Akibatnya, dia harus kembali menjalani hidup apa adanya seperti dari awal.

Usaha toko buku bernama ‘Lakeda Corner Book’ yang bertempat di sekitaran kampus Uncen Camp Walker, Waena, perlahan mulai gulung tikar. Soalnya, Lamadi dan istrinya tak mampu lagi memperpanjang biaya kontrakan ruko yang disewa bagi operasional toko buku dan nilainya puluhan juta rupiah per tahun.

Padahal, letak strategis toko buku itu telah membantu para mahasiswa/i maupun dosen Uncen dalam mendapatkan buku-buku sosial-politik berkualitas. Keberadaan toko buku ini juga telah menjadi tempat berdiskusi bagi kalangan aktivis mahasiswa dan mereka yang tertarik menjadi penulis dengan bekal bacaan yang bermutu.

Ketika saya kembali dari studi di Arizona AS di awal Mei 2017, saya menyempatkan diri mengunjungi Lamadi, istri dan dua anaknya, di ruko toko buku mereka di Camp Walker Waena yang mulai lesu karena sudah dekat tenggat waktu habis masa kontrakan. Di sinilah Lamadi dan istrinya menumpahkan semua isi hati mereka. Soal lika-liku hidup mereka selepas seorang pace Lamadi dibuang begitu saja, melalui pemecatan tak hormat sebagai juru bicara gubernur LE.

Saya cukup iba mendengar kisah ini. Seraya mencoba menghibur dan menjadi kawan sekaligus keluarga mereka dalam situasi senang dan jatuh. Usaha toko buku mereka akhirnya dipindahkan ke rumah mertua Lamadi di Cigombong Kota Raja Dalam, Abepura, Jayapura. Sambil mereka terus meneruskan usaha jualan buku dan usaha-usaha lain yang memungkinkan.

Beberapa bulan setelah saya kembali dari AS ke Jayapura, hampir setiap minggu saya selalu menemani Lamadi, istri dan dua anaknya, berjualan buku keliling di sekitaran kampus Universitas Cenderawasih (Uncen) Abepura dan kampus Universitas Ottow-Geissler Kota Raja Dalam. Kami sempat mendapat pinjaman bantuan mobil pick-up untuk berjualan buku keliling dari kaka dosen Fakultas Teknik Uncen, Dr. Jonatan Numberi yang telah berbaik hati bersama istrinya meminjamkan mobil mereka.

Selama menjadi penjual buku keliling di sekitaran kampus Uncen Abe, sejak pagi hingga sore, saya bersama Lamadi telah menjalin komunikasi dengan sejumlah mahasiswa/i dan dosen. Baik mereka yang ingin membeli buku atau pun yang sekedar datang untuk berdiskusi sambil meneguk segelas kopi di warung kecil di samping Gedung Administrasi Paska Sarjana Uncen.

Ini merupakan moment yang menyenangkan.  Karena saya bersama Lamadi bisa menjadi partner diskusi selama berjam-jam dengan para mahasiswa/i, alumni, staf pegawai Uncen, dosen, bahkan guru besar (profesor) tentang buku maupun mengenai berbagai fenomena sosial yang terjadi.

Setelah beberapa bulan membantu Lamadi menjadi penjual buku keliling dan pembaca buku yang tak produktif serta membosankan lantaran tak ada pekerjaan bagi saya yang saat itu baru pulang dari Amerika Serikat, saya memutuskan untuk kembali lagi ke AS guna mencari beasiswa atau mencari pekerjaan dan melanjutkan studi.

Saat itu saya belum memutuskan untuk mengajak Lamadi ikut bersama saya. Tapi dalam suatu kesempatan diskusi yang panjang bersama pace Lamadi, saya memutuskan mengajaknya ikut merantau guna merubah nasib di Amerika Serikat. Saya tidak peduli, entah nanti ‘kitong’ tinggal atau makan apa setelah sampai di AS. Atau mendapat uang dari mana untuk mengurus berkas dan membeli tiket agar bisa ke AS.

Bagi saya, mengajak Lamadi merantau dan mencari tantangan baru ke AS adalah suatu pilihan terbaik saat itu guna membantunya keluar zona frustrasi dan keterpurukan setelah dipecat. Tak peduli, entah nanti ‘kitong’ harus berkeringat, berdarah-darah, kedinginan, kelaparan, kehausan, atau apa pun situasi negatif yang akan ‘kitong’ alami. Bagi kami itu tidak masalah. Sebab percuma kalau kami harus menetap di Papua dengan nasib yang tidak jelas !

Akhirnya, dari sejumlah usaha dan perjuangan, saya bisa membawa Lamadi terbang selama belasan jam menerobos batas berbagai negara, benua dan lautan hingga tiba di bandara internasional John F. Kennedy, New York, pada 2 Mei 2018 dengan selamat. Perjuangan hidup kami yang baru di negara ini, coba kami rintis dan jalani setelah menginjakan kaki di New York City, seraya mencoba bertahan meresapi denyut nadi kota metropolitan paling modern di dunia yang tak ramah bagi pendatang baru.

Selama hampir setahun saya membawa seorang Lamadi merantau ke AS dan menjejali jalanan sejumlah kota mulai dari New York, Atlanta Georgia, New Jersey, Washington DC, Virginia, North Carolina, South Carolina, dan lain-lain, ‘kitong’ mulai yakin bahwa negara ini bisa ditaklukan dengan semangat kerja keras dan mental baja dalam menghadapi setiap tantangan.

Kami telah melewati pengalaman pahit sebagai buruh yang bekerja di gudang raksasa (ware house) milik perusahaan bernama APL Logistics Colgate Palm Olive di Atlanta Georgia. Menjadi tenaga relawan (volunteer)paruh waktu, berpetualang sebagai diplomat tukang lobi berkaki abu dengan kantong kosong, hingga menjadi tuna wisma (homeless) yang tidur di pinggir jalan dan terminal.

Pace Lamadi pun sempat mencicipi kerja sebagai tukang cuci piring selama beberapa waktu di restoran India bernama “Guruh Restorant”  di New Jersey. Setelah itu, ia harus berhenti lantaran kulit pada jari-jari tangannya hancur selepas berkutat dengan air cucian. Ia lalu kembali menjadi gelandangan (homeless) tanpa rumah di jalanan dan terminal kota New York, sebelum akhirnya dibawa oleh seorang pengusaha Bangladesh yang baik hati untuk bekerja dengannya.

Dari semua pengalaman ini, menjadi seorang buruh imigran yang terjajah dan terhisap di negara Kapitalis AS adalah sesuatu yang sangat menyakitkan! Namun itulah resiko dan tantangan yang harus dihadapi. Sebab seorang buruh yang terjajah karena upah (gaji), harus memberikan semua waktu dan tenaganya dikuasai oleh perusahaan demi untuk menyambung hidup.

Sering kali seorang buruh imigran di AS harus merasa tertekan oleh tekanan pekerjaan. Kadang di maki-maki supervisor hingga dapat dipecat sewaktu-waktu tanpa pesangon. Itulah realita yang membentuk mentalitas dan semangat yang harus dimiliki oleh para imigran dari negara mana pun yang ingin merantau dan menaklukan negara adidaya Amerika Serikat.

Mental inilah yang harus dimiliki para pelajar dan mahasiswa Papua di AS jika telah selesai dan ingin bekerja di negara ini. Atau perlu dimiliki generasi Papua yang ingin merantau ke negara super power yang kini dipimpin Donald Trump dan entah siapa lagi yang memimpin selanjutnya.

Akhirnya, saya akan merasa bangga dan adalah suatu kehormatan, jika kelak pace Lamadi de Lamato menjadi seorang yang namanya besar, mungkin saya lah orang yang tepat untuk menggoreskan kisah hidupnya dalam sebuah buku biografi. Atau pun sebaliknya… (Batavia, Kamis, 1/24/2019)

Bersambung……….

Published with the permission by the author.

 

*) Julian Howay adalah wartawan lepas dan penulis kisah-kisah perjalanan. Kini bermukim di Atlanta, Georgia, AS.