Info Lengkap Festival Film Papua III Di Sorong 2019

FESTIVAL FILM PAPUA III

“Perempuan Penjaga Tanah Papua”

Sorong Raya, 6-9 Agustus 2019

Dasar Festival

Papua adalah sebuah wilayah yang terdiri dari 312 suku asli dan masih menjaga baik pola-pola hidup nenek moyangnya.Pulau ini memiliki hutan menghampar luas, lautnya menyimpan berjuta jenis ikan dan tumbuhan sumber protein bagi kehidupan. Kandungan mineral di perut buminya, mulai dari minyak hingga emas, menjadikan pulau ini dipandang sebagai harta karun tak ternilai harganya. Papua adalah surga bagi para antropolog sekalligus bagi para investor pribumi dan mulltinasional yang melihat alamnya sebagai faktor produksi yang bisa mendatangkan keuntungan tak terperi.

Namun kini, Papua dikoyak oleh mesin-mesin tambang, gergaji pembabat hutan, dan jaring besar pukat harimau.Sementara penduduk asli wilayah ini melihat dan bergerak penuh kebingungan di tengah perubahan jaman yang tak mereka pahami.Orang-orang terus berdatangan dari berbagai suku bangsa, hingga kini jumlahnya mencapai lebih dari seluruh orang asli Papua.Ini bukan soal.Semakin beragam jenis penduduk maka semakin cepat gerak maju suatu bangsa, karena modal sosialnya semakin kaya.Namun tidak demikian dengan Papua.Kini kita menyaksikan, Papua tumbuh menjadi masyarakat yang plural, baik dari segi etnis, budaya, agama, ekonomi, dan motif politik.

Kehadiran perusahaan-perusahaan besar dan serbuan pendatang berbagai etnis justru semakin menciptakan jurang pemisah antara si kaya dan si miskin, orang asli dan migran, sementara nilai-nilai baru yang datang telah menyebabkan culture shock depan yang hebat pada penduduk asli. Situasi ekonomi yang tumbuh cepat tidak mensejahterakan Papua secara signifikan.Ketimpangan distribusi keuntungan dari eksploitasi alam Papua semakin mempertajam fragmentasi dalam masyarakat, dan sentimen kesukuan semakin memperburuk peta sosial yang ada.

Sebagian besar penduduk asli tinggal di desa/kampung, yang jauh dari pusat kota kabupaten, sementara itu sebagian kecil orang Papuadan sebagian besar migran menguasai kegiatan ekonomi di kota kabupaten dan propinsi. Sementara itu karakter penguasa lokal dipenuhi oleh korupsi dan kolusi dan diperburuk lagi oleh nepotisme di hampir semua level.Akibatnya, pelayanan sosial yang paling dasar sekalipun, seperti kesehatan, pendidikan, dan perumahan menjadi tidak penting.Saat ini kondisi Papua bagaikan sebuah gunung berapi yang terus aktif.Tekanan sosial, ekonomi, budaya dan politik di Papua adalah bahan peledak konflik horisontal maupun vertikal.

Sesungguhnya, dalam konsep budaya Orang Papua, kaum perempuan mendapat tempat yang cukup baik, seperti pada beberapa suku yang menggambarkan perempuan dalam simbol-simbol keagungan seperti misalnya simbol pohon sagu yang artinya sumber kehidupan. Namun hal ini bukan berarti sama dalam praktek kehidupan sehari-hari dimana perempuan justru tidak mendapatkan banyak kesempatan untuk memuliakan dirinya.

Dalam kehidupan keluarga sehari-hari kadang ditemui ada perempuan menyatakan tak mampu melawan kehendak suami atau keluarganya karena telah dibeli dengan harga mahal.Mereka harus bekerja keras dan menyimpan dengan rela berbagai bentuk ketidakadilan pada batin dan tubuh, sampai akhir hayatnya. Ironisnya, kaum perempuan sendiri merasakan bahwa ini adalah hal yang biasa, sudah takdir dan bahkan merasa apa yang dialaminya memang sudah semestinya diterima sebagai seorang perempuan.

Perempuan kampung di Papua sungguh menanggung beban berlapis-lapis, karena dia seorang perempuan, karena ia miskin, dan karena ia berkulit hitam. Kekerasan berbasis gender  terhadap perempuan  dengan pelaku utama anggota keluarga, anggota masyarakat maupun aparatur negara, merupakan kenyataan yang dapat dijumpai setiap saat. Kekerasan yang dialami oleh perempuan ini terjadi baik di ruang domestik maupun publik, oleh keluarga, lingkungan, maupun pemerintah.

Saat ini isu Perempuan Papua banyak mendapat apresiasi dari berbagai elemen masyarakat.Narasi mama-mama Papuadalam pemberdayaan ekonomi, perlindungan keluarga, pendidikan, dan lain sebagainya, telah banyak terekam dalam benak orang Papua yang terus memperjuangkan keadilan.

Penyadaran terus menerus melalui sosok perempuan adalah rekam jejak perjuangan dalam melawan diskriminasi, khususnya saat mengangkat ketidakadilan, pengabaian dan belum meratanya pelayanan publik. Perempuan yang memperjuangan kesetaraan akan berpikir dan bertindak lain dari sekedar mencari kedudukan di pemerintahan atau pengakuan masyarakat adatnya. Tentu dengan menyebut istilah perempuan, kami ingin melampaui obyektifikasi jenis kelamin dan pemosisian perempuan sebagai konsumen.

 

Festival Film Papua III Tanggal 6-9 Agustus 2019

Tema Festival Film Papua  III adalah  PEREMPUAN PENJAGA TANAH PAPUA

Festival Film Papua  ke-III tahun 2019 di Sorong, akan secara khusus membahas masalah masalah-masalah mendasar yang dialami oleh Perempuan Papua di semua aspek kehidupannya. Dokumentasi film tentang Perempuan yang berjuang di semua aspek (politik, ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, pendidikan, lingkungan hidup, dll) untuk menjaga tanah Papua sebagai Ibu yang memberikan kehidupan bagi manusia Papua dan Dunia.

Kami mengundang segenap kalangan untuk ikut terlibat bersama kami dalam membuat film-film inspirasi dokumenter tentang perempuan di tanah Papua yang dapat diikutkan dalam festival film papua yang dilaksanakan pada tanggal 7-9 Agustus 2019 di Sorong.

Pada Mei 2017, Papuan Voices bersepakat untuk melaksanakan Festival Film Papua (FFP) dan menjadikannya sebagai agenda tahunan.Gagasan dasar pelaksanaan Festival Film Papua adalah ingin memperkenalkan film-film karya anak-anak muda Papua tentang alam dan manusia Papua.

Festival Film Papua (FFP) Pertama dilaksanakan di Merauke pada 7-9 Agustus 2017. Sebagai rangkaian dari keseluruhan FFP pertama ini dilaksanaka kegiatan-kegiatan antara lain, workshop dan produksi film di enam wilayah, kompetisi film, pameran dan workshop media. FFP pertama berjalan dengan lancar. Ada lebih dari 10 Film pendek yang dihasilkan dari workshop, 27 film yang ikut kompetisi, lebih dari 50 peserta workshop media, serta berhasil mengumpulkan 700 penonton dalam 3 hari Festival Film di Kota Merauke.

Di tahun 2018, FFP kedua akan diselenggarakan di Kota Jayapura pada 7-9 Agustus 2018 dengan rangkaian kegiatan yang sama. Tema yang kami angkat untuk FFP II adalah “Masyarakat Adat Papua di Tengah Arus Modernisasi”.Tema ini kami pilih sebagai bentuk respon terhadap situasi di Tanah Papua saat ini.Tema ini menjelaskan posisi masyarakat adat di tengah arus pembangunan dan investasi yang makin banyak masuk ke Tanah Papua.

 

Sekilas Mengenal Papuan Voices

Papuan Voices adalah komunitas film yang terbentuk pada Tahun 2011. Berawal dari program pelatihan produksi dokumenter yang dibuat oleh EngageMedia yang bekerja sama dengan SKPKC Fransiskan Papua, SKP Keuskupan Agung Merauke dan JPIC MSC di Merauke. Para peserta pelatihan lalu menyatukan diri dalam wadah Komunitas film bernama Papuan Voices.Papuan Voices menyelenggarakan dua kegiatan utama.Pertama, penguatan kapasitas generasi muda di dalam memproduksi audio visual dan kedua, melakukan kampanye dan advokasi terkait isu-isu penting di Tanah Papua.

 Tujuan

  1. Memperkenalkan berbagai potensidan berbagai permasalahan yang dimiliki oleh Perempuan Papua lewat film dokumenter.
  2. Membangun kesadaran publik akan isu-isu Perempuan Papua.
  3. Mendorong dan memperkenalkan filmmaker muda Papua yang terampil dalam produksi dan distribusi film dokumenter.
  4. Sebagai wadah untuk memperkuat jaringan film di Tanah Papua.

 Hasil

  1. Ada rekomendasi tertulis yang dirumuskan dari Workshop untuk disampaikan kepada pemeriantah segera mengoreksi sistem ekonomi politiknya yang selama ini berbasiskan praktek ekstraksi kekayaan alam yang berwatak patriarkis, yang dalam hal ini diwakili oleh berbagai industri ekstraktif mulai dari perkebunan besar  kelapa sawit, tambang, kehutanan dan industri lainnya, yang juga menimbulkan kekerasan terhadapmanusia secara umum dan khususnya perempuan di Tanah Papua.
  2. Mendorong partisipasi publik untuk peduli terahadap masalah masalah yang dialami oleh Perempuan pada umumnya dan Perempuan Papua Khususnya.
  3. Mendukung hak-hak perempuan dan komunitas lokal atas penentuan nasib sendiri, hak atas tanah, hak atas ruang dan lain sebagainya dengan menggunakan pengetahuan dan teknik-teknik yang dikuasai oleh perempuan dan komunitas lokal dan berkeadilan secara ekologis.
  4. Masyarakat umum mengetahui dan memahami persoalan-persoalan penting yang dihadapi Perempuan Papua di Tanah Papua.
  5. Tersedianya ruang bagi generasi muda Papua yang memiliki keahlian untuk memproduksi dan distribusi film dokumenter serta.
  6. Terdapatnya konsolidasi organisasi dan kesadaran berkomunitas di kalangan anggota Papuan Voices

 

Rangkaian Kegiatan Festival Film Papua ke-III dan Waktu Pelaksanaan.

 

Dalam rangka Festival Film Papua ke-III ini, maka akan didahului dengan kegiatan perdana yaitu :

  1. Workshop dan Talkshow “Mendengar Suara Perempuan Penjaga Tanah Papua Dulu, Kini dan Harapan Masa Depan. Kegiatan ini akan menjadi sarana dialog untuk merumuskan rekomendasi-rekomendasi penting yang berkaitan dengan permasalahan perempuan Papua.
  2. Pelaksanaan Festival Film Papua ke III

 

Kegiatan Festival Film Papuan ke-III

 

No Jenis Kegiatan Waktu Pelaksanaan Keterangan
1 Publikasi Festival Film Papua III Feb-Juli 2019 Panitia
2 Publikasi Kompetisi Film Maret -Juni 2019 Panitia
3 Penerimaan Karya Film oleh Panitia Maret -Mei 2019 Pantia
4 Penjurian Juni-Juli 2019 Team Juri
5 Pengumuman 10 Besar Film Nominasi Juli 2019 Panitia dan Juri
6 Pengumuman 3 Film Terbaik Agustus 2019 Panitia dan Juri
7 Pelaksanaan Festival Film Papua III 6-9 Agustus 2019 Panitia
8 Pengumunan  Pemenang Festival Film Papua III 9 Agustus 2019 Penutupan Festival Film Papua III Panitia dan Juri

 

Penerima Manfaat

  1. Perempuan Secara Umum dan Khususnya Perempuan Papua
  2. Masyarakat Adat Papua
  3. Masyarakat Umum
  4. Pemerintah
  5. Organisasi Masyarakat Sipil
  6. Pegiat Kemanusiaan

Logo Festival Film Papua Ke – III  2019

 

Arti dan makna dari logo FFP III ini adalah :

  1. Sosok perempuan Papua
  2. Noken sebagai lambang Kehidupan
  3. Pulau Papua yang dipeluk, menggambarkan bagaimana perempuan Papua menjaga Papua dengan kasih
  4. Megaphone, alat yang kerap digunakan dalam aksi/demonstrasi untuk menunjukkan peran perempuan Papua di ranah perjuangan demokrasi

 

Anggaran FFP III

 

Festival Film Papua III ini di dukung oleh TIFA Foundation, Mitra Strategis Jaringan Papuan Voices, dan Usaha-usaha Panitia yang tidak mengikat.

 

Donasi bisa dikirimkan melalui Rekening Papuan Voices Wilayah Sorong

 

Bank Mandiri KCP AIMAS 16006

Nomor Rekening : 160-00-0291355-2

Atas Nama : Papuan Voices Wilayah Sorong

Penutup

Pelaksanaan FFP Ke-III merupakan media Kampanye dan Advokasi isu Perempuan yang terjadi pada masyarakat adat di Tanah Papua. Selain itu, menumbuhkan minat generasi muda Papua untuk menjadikan media Audio Visual sebagai salah satu media kampanye dan advokasi dengan tujuan pembangunan harus menghormati HAM dan melibatkan partisipasi aktif masyarakat adat di tanah Papua.

Contak Person Panitia

 1. Agustinus Kalalu (Ketua Panitia)

  1. +62 82198883681

Email : agustinus.kalalu@gmail.com

2.  Max Binur (Wakil Ketua Panitia)

  1. +62 85254700116/0898496915

Email : macx.binur@gmail.com

 3. Bernard Koten (Koordinator Umum Papuan Voices)

  1. +62 81260241970

Email : koten.elberd2@gmail.com

 4. Wirya Supriayadi (Sekretaris Umum Papuan Voices)

  1. +62 852543394009

Email : seknas.papuanvoices@gmail.com