Geliat Ekonomi Kreatif Wawiai Raja Ampat

Kepulauan Raja Ampat merupakan rangkaian empat gugusan pulau yang berdekatan dan berlokasi di barat bagian Kepala Burung(Vogelkoop) Pulau Papua. Secara administrasi, gugusan ini berada di bawah Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat.

Kepulauan ini sekarang menjadi tujuan para penyelam yang tertarik akan keindahan pemandangan bawah lautnya. Empat gugusan pulau yang menjadi anggotanya dinamakan menurut empat pulau terbesarnya, yaitu Pulau Waigeo, Pulau Misool, Pulau Salawati, dan Pulau Batanta.

Sejak terbentuknya Kabupaten Raja Apat pada 12 April 2019, keindahan daerah ini mulai tersiarkan ke seluruh Indonesia bahkan dunia. Keindahan pantai, laut dan pulau-pulaunya memikat hati ratusan wisatawan nasional dan mnaca negara untuk berkunjung ke negeri yang para raja ini.

Potensi ekonowisata raja ampat mestinya di selaraskan bersamaan dengan ekonomi kreatif masyarakat dalam satu tarikan nafas program yang saling menghidupkan dan menguntungkan,  agar tercapai kolaborasi antara keindahan alam atau spot wisata  dan ekonomi yang bersumber dari sumberdaya manusia berupa kreatvitas  lokal.

Dibalik kisah sukses duniwa wisatanya, ada kearifan lokal yang luput dari pantuan media bahkan khalayak yang berkunjung ke daerah ini. Potensi ekonomi kreatifnya  tidak  tersentuh sehingga tidak setenar eksotika spot wisatanya.

Salah satunya adalah ketrampilan masyarakat di Kampung Wawiyai yang piawai dalam mebuat piring anyaman dari bahan baku alam. Bapak pilipus Gimla misalnya yang membuat piring, baki dan noken anyaman dari bahan baku  dari lidi kelapa raja. Dari aspek fungsi, piring-piring anyaman dan baki tersebtu sanggat praktis dan memudahkan  untuk di gunakan untuk kebutuhan rumah tangga, pesta dan lain sebagainya.

Piring, baki dan noken anyaman semuanya di buat dari bahan baku alami tanpa mencampur bahan moderen seperti plastik, karet, lem, besi dan lain sebagainya. Piirng-piring, baki dan noken tersebut setiap bulannya di suplay untuk di jual di Sanggar Klafun Milik Perempuan Moi Kota dan Kabupate Sorong  yang berada di JL. Kapitan Laut Kelurahan Suprau Distrik Maladumes Kota Sorong

Piring anyaman dari Bapak Pilipus Gimla dari Wawii ini menjadi contoh potensi ekonomi yang berbasis kreatifitas, skil dan sumberdaya manusia lokal Papua yang selama ini belum tersentuh sehingga muncul stigma bahwa orang Papua tidak bisa, tidak kreatif dan seterusnya. Piring anyaman ini juga merupakan contoh salah satu dari sekian industry keratif lokal Papua yang belum di eksplor, di sentuh dan diantar kepada pasar yang luas.