Ketika Noken Mama-mama Papua Berinovasi

Progres Noken Dari Tahun ke Tahun

Noken pada awal era 1970-80-an masih di gunakan terbatas pada komunitas suku-suku di Papua. Diera 2000-an noken mulai berkembang meluas di dalam Papua sendiri bahkan diluar Papua. Noken mendapatkan momentumnya ketika UNESCO Mengakuinya sebagai salah satu warisan kebudayaan dunia tak benda. Mengapa di sebut kebudayaan dunia tak benda.? Karena noken bukan benda yang sudah ada, tetapi ide yang hidup dalam pikiran mama-mama Papua yang kemudian di turunkan dalam karya nyata.

Noken terus berkembang, bukan hanya menjadi identitas budaya, tetapi kini menjadi sumber pendapatan ekonomi, secara sosial mennjadi trend model baru di Papua saat ini. Noken terus di inovasi, mulai dari bentuknya bahkan yang lebih inovatif lagi noken di desain pada baju-baju moderen, ini menambah semarak dan geliat ekonomi. Noken tidak hanya menguntungkan mama-mama Papua.

Ada banyak pihak di untungkan melalui proses produksi noken yang makin masif di kalangan mama-mama Papua. Sebbagai contoh, ketika anyaman noken moderen dengan benang wall akan membutuhkan benang. Toko-toko pemilik benang adalah saudara/i non Papua, secara otomatis terdapat hubungan ekonomi yang saling menguntungkan. Atau sablon baju berlogo noken yang mebutuhkan tinta, desainer baju san seterusnya. Noken produk khas budaya yang kini ikut memacu ekonomi luas.

Sanggar Klafun Dan Inovasinya

Ketika banyak orang mengunakan noken dalam bentuk yang asli dan tradisional, banyak pula pandangan bahwa secara fungsional dan stail noken belum menjawab kebutuhan dan selera konsumen. Namun, seperti hukum ekonomi pada umumnya, ketika konsumen punya selera dan stail berbeda, mama-mama Papua pun berinovasi untuk memenuhi selera dan trend peminat atau konsumen.

Sanggar Klafun di JL. Kapitan Laut Kelurahan Suprau Distrik Maladumens Kota Sorong misalnya, mulai merubah stail produksinya. Noken tidak statis tetapi terus dinamis menyesuaikan arah pasar tanpa merubah ciri khas aslinya. Mama-mama Papua di Snggar kalfun tersebut, mencoba mendesain noken khas Papua dengan menambahkan tali tas moderen untuk mengantikan talinya, model dan bentuk noken sedikit berubah. Lalu pada bagian dalamnya, di jahitkan sarung   ritsletin atau  pembungkus pada bagian dalam noken noken.

Bahan dasar utamanya tetap mengunakan serat kulit kayu, namun modfikasi tali tas dan sarung dalam hanya di tambahkan untuk mempercantik stailnya. Model noken sanggar Klafun ini menunjukan satu inovasi ekonomi yang kolabiratif antara kebudayaan dan ekonomi menjadi satu konsep yang unik, menarik dan mendatangkan pendapatan bagi mama-mama Papua.

Bentuknyapun berfariarsi, noken untuk pria, noken untuk ibu-ibu sesuai fungsinya masing-masing. Harganyapun beragama sesuai ukuran, mulai dari 100,000 hingga 500,000. Suberdaya manusia mama-mama Papua mulai beradaptasi dengan perkembangan zaman, perlu adanya dukungan pemerintah agar terus berkembang, go market nasional hingga internasional.