Menanam Untuk Anak Cucu, Belajar Dari Fransiskus Asisi

Pada suatu pagi, Fransiskus dari Asisi yang sudah mulai tua sedang menggali lubang di kebunnya. Sedang sibuk-sibuknya ia mengali, seorang warga jemat bertanya, seadainya anda tau kalau hari ini anda mati, apa yang akan anda lakukan ? Apakah akan tetap menanam pohon?

Jawab fransiskus tentu saja saya akan tetap menanam pohon juga. Lalu anggota jemaatnya itu bertanya lagi. Bua tapa anda menanam pohon ? bukankah anda sudah banyak menanam pohon? Bukankah anda bersiap-siap menghadapi TUHAN anda.?

Jawab Fransiskus Dari Asisi, saya sudah siap, kapan saja TUHAN  memangil saya. Ketahuliah, saya menanam pohon bukan karena saya ingin memetic dan menikmati hasilnya buat diri saya sendiri. Kalau saya sudah mati sekalipun, bukankah orang lain dapat menikmatinya.

Dialog Fransiskus Asisi ini menjadi pembelajaran penting bagi masyarakat dunia, secara khsus  Papua yang memiliki hutan tropis terbesar di Indonesia selain Kalimantan dan sumatera. Selama ini aktivitas pemanfaatan dan eksploitasi hutan tanpa memikirkan keberlanjutannya bagi anak cucu degan melakukan reboisasi hutan kembali untuk

Hasil penelitian Jerat Papua 2014 menyebutkan, ada 155 perusahaan beroperasi di Papua dan mengkapling lahan 25.527.497 hektar atau lebih separuh luas daerah ini.

Dari data BBDSLP, peta stok karbon Papua, 4.875.648.988 ton ada di Papua dan 1.651.119.005 ton Papua Barat serta 97,94% di kawasan hutan.

Degradasi dan deforestasi terus terjadi. Periode 2000-2014, rata-rata degradasi pertahun 190.994 hektar melepas emisi 282.917.103 Ton CO2 atau rata-rata 20.208.364 ton CO2 pertahun. Deforestasi 38.775 hektar pertahun dengan total emisi  278.342.241 ton CO2 atau 19.881.589 ton CO2.

Sebagai solusi atas laju defirestasi pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2016  tetang Restorasi Gambut. Tak haya peraturan pemerintah tersebut, masih banyak aturan lainnya yang mestinya di optimalkan untuk mendorong perusahan kelapa sawit, pertambangan semua yang megeksploitasi hutan untuk kepentingan mereka berkewajiban melakukan restorasi, reoboisasi hutan kembali sebagai akibat pemanfaatan hutan yang sudah di lakukan.

Program restorasi dan reboisasi tersebut merupakan tangung jawab generasi saat ini terhadap generasi yang akan datang. Seperti jawaban dialog Fransiskus Asisi bahwa ia terus menannam meskipun ia mati esok hari. Tapi hasil dari tanamannya bukan bermanfaat untuk dirinya tetapi untuk generasi selanjutnya.

Jawab fransiskus tentu saja saya akan tetap menanam pohon juga. Lalu anggota jemaatnya itu bertanya lagi. Bua tapa anda menanam pohon ? bukankah anda sudah banyak menanam pohon? Bukankah anda bersiap-siap menghadapi TUHAN anda.?

Jawab Fransiskus Dari Asisi, saya sudah siap, kapan saja TUHAN  memangil saya. Ketahuliah, saya menanam pohon bukan karena saya ingin memetic dan menikmati hasilnya buat diri saya sendiri. Kalau saya sudah mati sekalipun, bukankah orang lain dapat menikmatinya.

Dialog Fransiskus Asisi ini menjadi pembelajaran penting bagi masyarakat dunia, secara khsus  Papua yang memiliki hutan tropis terbesar di Indonesia selain Kalimantan dan sumatera. Selama ini aktivitas pemanfaatan dan eksploitasi hutan tanpa memikirkan keberlanjutannya bagi anak cucu degan melakukan reboisasi hutan kembali untuk

Hasil penelitian Jerat Papua 2014 menyebutkan, ada 155 perusahaan beroperasi di Papua dan mengkapling lahan 25.527.497 hektar atau lebih separuh luas daerah ini.

Dari data BBDSLP, peta stok karbon Papua, 4.875.648.988 ton ada di Papua dan 1.651.119.005 ton Papua Barat serta 97,94% di kawasan hutan.

Degradasi dan deforestasi terus terjadi. Periode 2000-2014, rata-rata degradasi pertahun 190.994 hektar melepas emisi 282.917.103 Ton CO2 atau rata-rata 20.208.364 ton CO2 pertahun. Deforestasi 38.775 hektar pertahun dengan total emisi  278.342.241 ton CO2 atau 19.881.589 ton CO2.

Sebagai solusi atas laju defirestasi pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2016  tetang Restorasi Gambut. Tak haya peraturan pemerintah tersebut, masih banyak aturan lainnya yang mestinya di optimalkan untuk mendorong perusahan kelapa sawit, pertambangan semua yang megeksploitasi hutan untuk kepentingan mereka berkewajiban melakukan restorasi, reoboisasi hutan kembali sebagai akibat pemanfaatan hutan yang sudah di lakukan.

Program restorasi dan reboisasi tersebut merupakan tangung jawab generasi saat ini terhadap generasi yang akan datang. Seperti jawaban dialog Fransiskus Asisi bahwa ia terus menannam meskipun ia mati esok hari. Tapi hasil dari tanamannya bukan bermanfaat untuk dirinya tetapi untuk generasi selanjutnya.