Mimpi Surya Paloh Presiden Indonesia Dari Papua, Bisa Kah ..?

Sempat Viral di media sosial cuplikan wawancara Metro TV dan Pak Surya Paloh sebagai pemiliknya. Pertanyan dari Presenter kepada Surya Paloh, setelah Bapak sukses di bidang ekonomi dan dunia politik apa mimpi bapak yang belum terwujud..?

Jawabnya, saya ingin melihat Indonesia yang seutuhnya. Dimana ada seorang berkulit hitam berambut keriting bisa menjadi Presiden di Indonesoa. Cuplikan kalimat itu seperti harapan besar, mimpi besar bahkan iman besar dari seorang Surya Paloh. Bahwa suku apa saja, agama apa saja boleh menjadi Presiden di Indonesia. Seperti mimpi Marthen Luter King JR. Di Amerika dengan Judul” I have a dream”

Optimisme dan ambisi itu perlu, namun realitas dan fakta politik juga seperti das sein dan das solen, harapan dan kenyataan masih jauh. Amerika membutuhkan 400 Tahun lamanya, melalui masa rasisme, perang saudara lama kemudian bisa menghasilkan seorang Obama sebagai presiden kulit hitam Amerika pertama.

Konteks Indonesia, mimpi Surya Paloh ini masih jauh dari realitas sosial budaya kita. Disini kita belum tuntas dalam berpikir, belum tamat dari etnosentrisme politik identitas, agama, suku dll. Di Indonesia belum ada penerimaan dan pengakuan antara suku. Semua masih terkungkung dalam ruang sempit, tempurung etnis.

Ada yang merasa lebih superior, lebih cerdas, lebih mampu dari yang lain. Sebagai contoh sosialnya, ketika kami kuliah di Jawa kami juga mengalami penolakan sosial dengan slogan, kera, Monyet, Afrika, di sulawesi sering kita dengar Yaki Jo Ngoni, Wong Ireng, Aspal dan seterusnya. Revolusi mental Jokowi belum membersihan itu. Menuju Indonesia yang menjadi milik bersama, membutuhkan pembangunan kesadaran kebangsaan yang tinggi, menembus batas hal-hal warna seperti warna kulit, agama, suku dan seterusnya.

Pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi juga harus di imbangi dengan kesdaran kebangsaan saling mengakui dan menerima, kalau semua itu sudah tuntas pada tatanan kasadaran masyarakat Indonesia Barulah mimpi Bapak itu bisa terwujud. Sejauh ini Orang Papua masih di stigmakan’Bodoh, miskin, terbelakang, primitf dan seterusnya.

Demokrasi kita belum benar-benar matang, pemilih masih memilih karena ikatan suku, agama dan golongan. Bagaimana mungkin dalam kondisi kesadaran berpikir yang rendah kelompok minoritas seperti Papua bisa menjadi Presiden di Republik Indonesia ini. Jangan muluk-muluk memimpikan Presiden, Anggota DPRD Kabupaten, Provinsi Dan DPR-RI Sudah adakah orang Asli Papua bisa mencalonkan diri di Jawa Timur dan berhasil di pilih oleh saudara/i disana.?

Ataukah Ada orang Papua yang terpilih sebagai Anggota DPRD Di Jogjakarta, Jawa Tengah ? Atau Anggota DRP-RI Dari Dapil Jawa Barat..? Realitas selama ini justru yang terjadi  sebaliknya. Jadi kita tak perlu memimpikan Presiden, cukup Anggota Legislatif saja orang asli Papua  Belum ada yang menjadi anggota DPR Di luar Papua. Apakah karena mereka tidak mampu..? Ataukah mereka tidak berani.? Mereka berani dan mampu, namun mereka belum bisa di terima dan di akui kemampuan dan kapasitas mereka. Disitu masalahnya. Penerimaan dan pengakuan.

So Tanguhkan dulu Mimpi Presidennya, mari kita tuntaskan dulu paham dan kesadaran demokrasi kita, kita coba dulu pada tingkat Anggota Legislatif orang asli Papua di luar Papua bisa kah…? Mari diskusi.

Agustinus.R Kambuaya

Ketua Forum Study Noken Ilmu

Save ARK.@#